Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Ahlan wa sahlan di dunia 'Baru Belajar'

Thursday, June 4, 2015

DAURAH ILMIAH AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH “ASY SYARIAH” Ke-11

 
Bismillah.
Alhamdulillah, dengan pertolongan dan taufik dari Allah, insya Allah akan hadir kembali…
 
DAURAH ILMIAH AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH “ASY SYARIAH” Ke-11
~~• 1436 H/2015 M •~~
 
dengan tema:
 
“MENANGKAL RADIKALISME BERDASARKAN PEMAHAMAN SALAF”,
 
dengan pembicara:
Asy-Syaikh Khalid azh-Zhafiri (Kuwait)
Asy-Syaikh Badr bin Muhammad al-Anazi (Arab Saudi)
Asy-Syaikh Usamah bin Sa’ud al-‘Amri (Arab Saudi)
Asy-Syaikh Fuad bin Sa’ud al-‘Amri (Arab Saudi)
Asy-Syaikh Arafat bin Hasan al-Muhammadi (Yaman)
 
Kajian Umum insya Allah diselenggarakan di Masjid Agung Manunggal, Bantul pada
Sabtu-Ahad, 19-20 Sya’ban 1436 H (6-7 Juni 2015 M);
 
Daurah Asatidzah insya Allah diselenggarakan di “Ma’had al-Anshar”,
Kamis-Sabtu, 17-26 Sya’ban 1436 H (4-13 Juni 2015 M).
 
Kajian ini insya Allah bisa diikuti melalui:
RadioIslamJogja.com
RadioRasyid.com
Radio Manhajul-Anbiya.net
 
read more - DAURAH ILMIAH AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH “ASY SYARIAH” Ke-11

Tuesday, December 2, 2014

KAMAR KESEDIHAN


Bismillah
Dahulu aku memiliki seorang teman yang sangat aku sukai karena keutamaan dan adabnya. Kalau melihatnya aku pasti merasakan kesejukan. Hati ini menjadi lembut karena memandangnya. Aku berteman dengannya untuk waktu yang lama. Tak satu hal pun yang aku ingkar dari dirinya. Begitu pula, dia tidak mengingkari sesuatupun dariku.
Hingga akhirnya, aku meninggalkan kota Kairo di Mesir untuk waktu yang lama. Maka kami pun saling berkirim surat. Tak lama setelah itu, surat-surat darinya berhenti. Berita yang kudengar tentangnya membuatku ragu dan bimbang. Kemudian aku kembali ke kota Kairo. Keinginan terbesarku adalah ingin melihat temanku itu. Aku segera mencarinya di tempat-tempat yang dahulu kami biasa saling bertemu. Namun, aku tidak berhasil menemukannya. Pencarian kulanjutkan ke rumahnya. Para tetangga mengatakan bahwa temanku itu telah lama pergi meninggalkan tempat tersebut. Mereka tidak mengetahui lagi kemana tempat tinggalnya sekarang. Dalam sekejap, aku telah berada di antara rasa keputusasaan dan harapan. Seketika itu, aku telah yakin bahwa aku kehilangan temanku. Tidak ada harapan lagi bagiku untuk menemukannya kembali.
Di tempat itu, tak terasa air mataku meleleh. Sebuah tetesan air mata yang tidak akan mengalir melainkan dari seorang yang sedikit saja memiliki rasa persahabatan, yang sedikit saja memiliki rasa kasihan dan iba kepadanya. Hingga dia pun menjadi tujuan dari tujuan-tujuan hari itu. Tidak ada yang terlewatkan dari sebuah hari melainkan mengingatnya. Rasa sakit karena mengingatnya pun selalu datang silih berganti.
Suatu saat, ketika aku pulang ke rumah pada suatu malam di akhir bulan, ketidaktahuanku terhadap jalan di tengah kegelapan malam yang begitu pekat menjadikanku tersesat ke arah sebuah lorong sempit nan asing. Seorang yang memandang tempat tersebut di saat-saat seperti itu pasti akan segera pergi meninggalkannya. Di pertengahan malam yang aku yakin bahwa tempat tersebut adalah tempat jin dan makhluk halus. Aku merasa seperti masuk ke dalam laut yang begitu hitam dan gelap, yang sedang naik di antara dua gunung yang tinggi menjulang besar. Seolah ombak dan gelombangnya maju dan mundur ke arahku, serta menaikkan dan menurunkanku. Hingga tak terasa aku telah berada di tengah-tengah gelapnya tempat itu. Tiba-tiba dari sebuah rumah di antara rumah-rumah yang sudah ditinggalkan penghuninya, aku mendengar suara rintihan dan ratapan. Sebuah rintihan yang berulang-ulang di pertengahan malam. Rintihan itu diikuti oleh rintihan berikutnya.  Ya, silih berganti suara itu berdatangan. Aku pun merinding mendengarkannya. Bulu kudukku bediri semua. Aku sangat ketakutan.
“Aneh sekali. Berapa lama malam seperti ini tersembunyi dalam dadanya dari hati orang yang kesedihan,” gumamku dalam hati. Padahal hari sebelumnya aku telah berjanji kepada Allah untuk tidak ingin melihat orang yang sedih atau menangis melainkan aku harus berada di depannya untuk bisa menolong dan membantunya jika aku memang mampu.  
              Aku segera mencari jalan ke arah sumber suara itu. Akhirnya aku sampai juga ke rumah yang dimaksud. Pintu kuketuk lirih. Namun pintu itu tidak dibuka. Kali ini pintu kuketuk dengan keras. Seorang gadis kecil –umurnya belum mencapai tahun kesepuluh- membuka pintu. Dari sorot lampu lilin redup yang dipegangnya, aku mengamati gadis cilik ini. Ternyata pakaian yang dikenakan compang-camping. Pakaian itu telah lusuh dan sobek di banyak tempat. Seolah itu seperti bulan purnama di balik gumpalan-gumpalan awan.
“Apakah ada orang sakit di keluarga kalian?” tanyaku kepada si gadis.
Seketika itu napas panjang ditariknya sambil menangis keras hingga tali jantungnya seakan-akan hampir putus.
“Ayahku sedang sekarat. Ia hampir meninggal.” jawab si gadis dalam tangisnya.
Ia pun berjalan di depanku. Aku segera mengikutinya di belakang. Aku terus berjalan di belakang gadis itu hingga sampailah aku di sebuah kamar. Kamar itu memiliki pintu sempit namun tinggi. Kamar dengan pintu kecil itu segera kumasuki. Tiba-tiba aku seakan berpindah dari alam kehidupan nyata ke alam kematian. Aku melihat kamar itu seperti lubang kubur. Sedangkan orang yang sakit itu seolah seonggok mayit yang terbujur kaku.
Aku segera mendekat ke arahnya. Hingga aku berdiri di sampingnya. Ternyata tulang-tulang orang itu telah mengerut. Sedangkan napasnya terengah-engah. Sementara angin tak henti-hentinya bertiup lembut di kamar kayu itu. Lalu aku meletakkan telapak tanganku ke dahi orang itu. Ia segera membuka kedua matanya. Kemudian ia memandangi wajahku. Pandangannya begitu lama. Sedikit demi sedikit ia mulai membuka kedua bibirnya. Lalu dengan suara lirih, ia mengatakan, “Alhamdulillah, segala puji bagi Allah. Kini aku telah menemukan temanku.”
Mendengar ucapan itu, hatiku segera berjalan-jalan ke bagian dada dengan penuh ketakutan dan kegelisahan. Pikiran dan ingatanku segera melayang terbang kepada temanku yang telah hilang. Hingga aku benar-benar yakin bahwa secara tidak sengaja aku telah menemukan temanku yang telah lama menghilang itu. Ya, dialah teman yang dahulu aku berjanji agar tidak bertemu dengannya sedang dia telah berada di jalan menjelang kematian. Seorang teman yang aku tidak ingin kesedihan yang terpendam dalam hati dan terkubur di antara tulang-tulang rusukku kembali terbuka.
Aku segera menanyakan kondisinya. Aku juga menanyakan keadaan yang dialaminya sekarang ini. Seolah keramahannya kepadaku kembali bersinar dari lampu kehidupannya yang telah redup dan kini sedikit bercahaya terkena cahaya. Ia memberi isyarat kepadaku untuk duduk. Tanganku segera kulayangkan ke arahnya. Aku menguatkan dan melebarkan tanganku hingga akhirnya ia bisa duduk tegak. Lalu ia segera menceritakan kisah yang dialaminya.
Berikut ini penuturan temanku:
Selama sepuluh tahun aku dan ibuku tinggal di sebuah rumah. Di samping rumah tersebut tinggallah salah seorang tetangga kami. Ia adalah orang kaya. Kehidupannya penuh kenikmatan. Di dalam istana megah dan mewahnya hiduplah seorang gadis perawan yang begitu cantik dan menawan seperti istana yang dihuninya. Aku tergila-gila kepada gadis cantik itu. Saking cintanya, aku tidak bisa bersabar kepadanya. Tak henti-hentinya aku berusaha untuk mendapatkan cintanya. Namun ia menolaknya. Cintaku bertepuk sebelah tangan. Aku berupaya untuk merebut hati dan perhatiannya. Sayang, ia mengelaknya. Dengan segala cara aku mencoba untuk masuk ke dalam sanubari kecilnya. Akan tetapi, aku tidak bisa sampai kepadanya.
Hingga suatu ketika aku bisa mendapatkan jalan keluar. Aku berjanji untuk menikahinya. Aku mendekatinya. Usahaku mulai menyentuh hawa nafsu gadis itu. Aku berhasil merobohkan kekuatannya. Aku segera merebut hatinya. Dan dalam sehari kesucian dan kehormatannya segera kurenggut. Tidak lama setelah itu aku mengetahui bahwa dirinya memiliki penyakit asma. Aku pun kecewa dan putus asa. Kini aku berada di antara dua pilihan, berusaha untuk menunaikan janjiku ataukah aku akan memutuskan tali cintaku kepadanya. Hingga akhirnya aku memilih pilihan kedua. Dengan segera aku meninggalkan rumah yang engkau kunjungi ini. Aku tidak lagi kembali ke rumah itu. Hingga akhirnya sedikitpun aku tidak mengetahui kabar tentangnya. Beberapa tahun telah berlalu dari peristiwa tersebut hingga datanglah sepucuk surat dari wanita itu melalui pos.
Temanku itu lalu menjulurkan tangannya ke bawah bantal. Kemudian dengan cepat ia menunjukkan surat yang dimaksud. Surat tersebut telah using dan menguning. Aku segera membaca surat tersebut. Berikut ini isinya:
Kalau seandainya aku menulis surat ini dalam rangka untuk memperbaharui janji dahulu atau membuka kembali cinta lama kita, maka aku tidak akan menulis satu baris. Satu huruf pun tidak. Karena sesungguhnya aku yakin sebuah janji seperti janjimu yang penuh pengkhianatan atau sebuah sebuah rasa kasih seperti rasa kasih dusta nan palsu darimu, tidaklah pantas untuk dirayakan sehingga aku harus mengingat-ingat serta mengenangnya kembali, dan tidak pantas pula untuk kusesali sehingga aku harus meminta untuk diperbaharui.
Sungguh, engkau telah tahu ketika engkau meninggalkanku bahwa di antara kedua perutku telah terdapat api yang menyala-nyala, telah terdapat janin yang sudah bergerak-gerak, itu semua penyesalan untuk yang sudah berlalu dan kekhawatiran terhadap masa depan. Namun semua itu tidak engkau perhatikan. Engkau justru menelantarkan diriku. Sampai-sampai engkau tidak mau menoleh kepada belahan jiwamu, yang merupakan hasil darimu. Engkau juga tidak mau berusaha untuk mengusap air mata yang telah engkau alirkan. Maka setelah itu, apakah aku bisa menggambarkan bahwa dirimu itu adalah seorang yang mulia? Bahkan aku tidak bisa menggambarkan bahwa dirimu itu adalah seorang manusia. Karena tidaklah engkau meninggalkan satu kesempatan dari berbagai kesempatan dalam jiwa yang jauh atau bencana yang menakutkan melainkan engkau mengumpulkannya di dalam jiwamu. Dan semua itu engkau tampakkan dalam satu penampakan.
Engkau telah dusta ketika engkau mengaku mencintai diriku. Tidaklah engkau mencintai selain dirimu sendiri. Semua hal yang engkau lihat dari diriku hanyalah untuk memuaskan nafsumu saja. Kebetulan engkau bertemu diriku untuk memuaskan nafsumu itu. Kalau bukan hal tersebut, pasti engkau tidak akan mengetuk pintu rumahku. Engkau juga tidak akan memandang wajahku.
Engkau telah menipuku. Engkau telah mengkhianatiku dalam janjimu untuk menikahiku. Engkau telah mengingkari janjimu dengan alasan jiwamu tidak ingin menikahi wanita pendosa atau wanita yang belum dewasa. Tidaklah wanita itu pendosa, bukan pula wanita itu belum dewasa melainkan semua itu hanyalah rekayasa tanganmu dan buat-buatan jiwa serta nafsumu. Kini aku menjadi seorang terhina dan yang teriris-iris hatinya. Hidup terasa begitu berat. Kematian terasa masih sangat lama. Apakah masih ada kenikmatan bagi seorang wanita yang tidak bisa menjadi istri bagi seorang laki-laki? Tidak pula ada kenikmatan bagi wanita yang tidak bisa menjadi seorang ibu bagi anaknya! Bahkan tidak ada kenikmatan bagi wanita yang tidak bisa hidup di tenga-tengah masyarakat dan pergaulan manusia, melainkan dalam pergaulannya ia selalu menundukkan kepala, menurunkan kelopak matanya, dan merendahkan pipinya. Semua persendiannya gemetar dan menggigil. Penyakit asmanya menimbulkan suara. Wanita itu berada dalam ketakutan untuk ditelantarkan dan dijadikan bahan ejekan maupun olokan.
Engkau telah merampas kebahagiaanku. Karena setelah peristiwa itu, aku terpaksa harus meninggalkan istana itu. Sebuah istana yang dahulu aku hidup dalam kesenangan dan kenikmatan hidup bersama ayah dn ibuku. Lalu aku lari meninggalkan semua kenikmatan melimpah dan kehidupan mewah itu menuju rumah hina nan rendah di sebuah desa yang telah ditinggalkan oleh penduduknya, yang tidak diketahui lagi oleh seorang pun, yang pintunya tidak pernah diketuk. Dalam rumah itu aku habiskan masa mudaku dari sisa-sisa hidupku.
Engkau telah membunuh ayah dan ibuku. Aku tahu bahwa keduanya telah meninggal. Dan aku yakin kematian keduanya karena kesedihan yang menimpa mereka berdua atas kehilangan diriku dan keputusasaan untuk bisa bertemu dengan diriku lagi.
Engkau juga telah membunuh diriku. Karena sesungguhnya kehidupan pahit yang aku teguk dari gelasmu, angan-angan panjang yang aku dapatkan karena dirimu, telah mencapai puncaknya pada badan dan jiwaku. Hingga aku menjadi seorang wanita yang terbaring di atas tempat tidur kematian. Kini aku ibarat sumbu sebuah lampu yang terbakar, yang sedikit demi sedikit napasnya habis menyambut kematian. Aku yakin bahwa Allah akan menolongku dan mengabulkan doaku. Aku yakin Allah akan memindahkanku dari negeri kematian dan kesengsaraan menuju negeri kehidupan dan kebahagiaan. Sementara dirimu adalah pendusta dan pengkhianat, engkau adalah perampok dan pembunuh. Aku yakin Allah tidak akan membiarkanmu tanpa mengambilkan hakku darimu.
Tidaklah aku menulis surat ini dalam rangka untuk menagih janjimu. Tidak pula untuk mengobarkan kembali rasa cinta itu. Karena di mataku, engkau terlalu hina dan terlalu rendah untuk semua itu. Sungguh, kini aku telah berada di pintu kubur. Tak lama lagi aku akan meninggalkan semua kehidupan dunia ini, kebaikannya, keburukannya, kebahagiaannya, maupun kesengsaraannya. Aku sudah tidak lagi mengharapkan rasa cintamu. Tidak lagi aku menginginkan janjimu. Aku menulis surat ini hanya karena engkau memiliki tinggalan yang ada pada diriku, yaitu anak hasil perbuatanmu. Kalau yang mendorongmu untuk datang adalah kasih sayang yang muncul dari hatimu, dan engkau bisa hidup dengannya sebagai seorang ayah yang mencintainya, maka terimalah anak tersebut agar ia tidak mendapatkan kesengsaraan sebagaimana yang telah dirasakan oleh ibunya sebelum dirinya.
Begitu selesai membaca surat tersebut, aku segera memandang dan menoleh ke arah temanku. Aku melihat air matanya kembali meleleh melalui kedua pipinya.
“Lalu apa yang terjadi setelah itu?” tanyaku kepadanya.
“Sungguh, tidaklah ketika aku selesai membaca surat tersebut melainkan semua anggota badanku merinding. Semuanya menggigil dan bergetar. Aku merasa bahwa dadaku ini seperti hendak terbelah dari hatiku karena rasa pedih dan ketakutan. Maka dengan segera aku mendatangi rumah wanita tersebut yang tidak lain adalah rumah yang engkau lihat sekarang ini. Aku melihat wanita itu berada di dalam kamar ini, di atas tempat tidur ini. Badannya terbujur kaku tidak bergerak. Sementara itu aku melihat putrinya berada di sampingnya tak henti-hentinya menangis kesedihan dan kepahitan. Seketika itu aku pingsan melihat ngerinya pemandangan yang aku lihat. Aku tak sadarkan diri. Seluruh kejahatanku masuk ke dalam baying-bayang dalam pingsanku. Seolah-olah semua kejahatan itu menjadi hewan buas yang mematikan. Ya, ia seperti singa-singa yang siap menerkam. Satu singa mencakarkan kuku-kukunya. Singa yang lainnya lagi menajamkan taringnya. Begitu aku sadar dari pingsan hingga aku berjanji kepada Allah untuk tidak meninggalkan kamar ini. kamar yang aku namai sebagai kamar kesedihan. Aku tidak akan meninggalkannya hingga aku merasakan hidup seperti hidup yang dirasakan wanita itu dan agar aku mati dengan kematiannya. Maka sekarang ini, pada hari ini, aku akan mati dengan penuh keridhaan dan kebahagiaan.
Begitu sampai pada kisah ini, lisan temanku langsung terbungkam, wajahnya menjadi muram. Ia pun terhempas ke dipannya. Nyawanya meregang sambil mengatakan, “Tolong engkau rawat putriku, wahai temanku!”
Setelah peristiwa itu, aku tinggal sejenak di rumah temanku untuk menunaikan kewajiban yang harus ditunaikan kepada seorang teman. Kemudian aku menulis surat yang aku tujukan kepada semua teman-teman dan orang-orang yang mengenalnya. Tidaklah terlihat sebuah hari yang lebih banyak tangisan dari para lelaki maupun wanita seperti hari itu.
Ketika kami melemparkan tanah di atas kuburnya
Kami semua takut, akan tetapi waktu apakah yang pantas untuk ditakuti       
Allah mengetahui bahwa aku menuliskan kisahnya. Aku tidak bisa menguasai dan mengendalikan diriku untuk tidak menangis dan meratap. Aku tidak akan melupakan pesan yang disampaikan oleh temanku itu, yaitu ketika ia menitipkan jiwa kehidupan. Ya, aku tidak akan melupakan ucapannya, “Tolong engkau rawat putriku, wahai temanku!”
Maka, wahai para lelaki yang memiliki hati kuat! Bersikap lembutlah kalian semua kepada para wanita yang memiliki jiwa lemah. Sesungguhnyan kalian semua tidak mengetahui hati apa yang kalian buat sedih dan air mata apa yang kalian tumpahkan, ketika kalian mengkhianati kehormatan dan kesucian mereka.

Diambil dari buku 100 Kisah Tragis Orang-Orang Zalim karya Hani Al Hajj
read more - KAMAR KESEDIHAN

Tuesday, October 14, 2014

TIPS SAAT TA'LIM


Bismillah,
Berawal dari pertanyaan yang sudah sangat lama dari salah seorang penanya pada tulisan yang berjudul Mewaspadai Para Da’iPenyesat Umat, saya putuskan untuk memposting jawaban saya di judul tersendiri. 
Pertanyaannya adalah: "Bismillah. Mau tanya/minta tips, bagaimana cara Anda mencatat faidah selama kajian? Apa mencatat faidah-faidahnya saja atau men'transkip' ucapan ustadz? Artinya hampir semua ucapan ustadz Anda catat semua termasuk tanya-jawabnya? Jazaakillahu khoyron bersedia berbagi tips belajar. "
Jawaban (yang telah dilengkapi): Sebenarnya ini bukan tips karena hal-hal berikut sudah sepantasnya harus dilakukan oleh siapapun ketika akan dan sedang ta’lim:
1. Bismillah, luruskan niat semata-mata mengharap wajah Allah dan untuk mengangkat kebodohan.
Rugi kalau berangkat ta’lim hanya untuk setor muka, tidak enak dengan ikhwah karena sering ditanya kenapa jarang berangkat, hanya untuk dianggap sebagai orang yang rajin ta’lim, hanya untuk kopdar dengan ikhwah atau ummahat/akhowat, ada urusan bisnis, atau mungkin cari muka di depan ustadz/ustadzah. Rugi kalau berangkat ta’lim karena khawatir jika tidak berangkat maka akan dicap ‘malas’ ta’lim, tidak semangat ngaji, atau berbagai tendensi duniawi lain. Wal iyadzubillah.
Buang jauh-jauh pikiran yang semacam itu, segera tepis dan kembalikan niat ikhlas karena Allah. Menuntut ilmu itu ibadah jadi hanya boleh diperuntukkan untuk Allah. Hati-hati terjatuh ke dalam kesyirikan jika kita memperuntukkan ibadah kita untuk selain Allah.
2. Siapkan kitab dan alat tulis (pena dan buku catatan)
Jangan sampai terlupa membawa karena kalau tidak, di sana nanti harus mencari pinjaman, ya kalau langsung dapat, kalau tidak? Bukan kita saja yang ribet tetapi orang lain juga bisa jadi merasa terganggu. Dan tentu saja hati kita menjadi tidak tenang seandainya tidak membawa pulpen atau alat tulis lain, perasaan kalang-kabut ketika ta’lim sudah dimulai sementara belum ada pulpen di genggaman. Padahal salah satu faktor agar ilmu masuk ke otak dengan mudah adalah pikiran dan jiwa yang tenang sehingga kita bisa fokus dan konsentrasi dengan baik.
3. On time

Usahakan berangkat awal sehingga bisa tiba di tempat ta’lim beberapa saat sebelum ta'lim dimulai, setidaknya tepat waktu. Jangan terlambat karena kalau terlambat rugi yang didapat, jadi ketinggalan beberapa faidah sehingga semangat untuk menyimak dan mencatatnya jadi berkurang. Apalagi kalau yang mengisi ustadz yang tipenya semua apa yang diucapkan adalah penting, jangan sampai terlambat. Dikira-kira seberapa jauh jarak antara tempat tinggal dengan tempat ta’lim, butuh berapa lama untuk menjangkaunya dengan mempertimbangkan hal lain seperti misalnya jika jalanan ramai, kondisi kendaraan tidak prima, dsb. Jika sampai terlambat, tentu hati kita pun tidak tenang, grusah-grusuh alih-alih bisa-bisa pikiran menjadi buyar, susah konsentrasi sehingga berdampak sulitnya memahami materi yang diajarkan.
4. Duduk di barisan depan

Setiba di tempat ta’lim segera ambil posisi strategis, berlomba-lomba duduk di barisan depan, duduk senyaman mungkin dengan tetap memperhatikan adab dalam majelis seperti tidak duduk selonjor, bersandar, atau memegang kedua lutut di depan dada. Duduklah bersila menghadap ustadz (bagi yang ikhwan) dan menghadap ke depan (bagi yang akhowat). Kalau menghadap ke kiri-kanan pasti nanti malah jadi ngobrol dengan teman sebelahnya. Keluarkan kitab dan letakkan alat tulis di dekat kita yang mudah dijangkau oleh tangan. Sesekali boleh mengubah posisi duduk jikalau sudah merasa tidak nyaman/kesemutan seperti duduk tawaruk. Namun, jika ta’lim belum dimulai bolehlah bertegur sapa dengan yang hadir di sana.
Tips khusus pada point ke-4: Usahakan jangan duduk di dekat ikhwah/ummahat yang membawa anak kecil/bayi/balita, hehe, karena dapat mengurangi konsentrasi, entah karena kita sendiri yang tergoda untuk menggoda anak kecil maupun mungkin anak kecil itu yang membuat keributan. Jika sebelah kita ada anak kecil, kita jadi tidak konsen mencatat ta’lim, yang ada kita malah mengajak main anak kecil itu atau bahkan menggendong bayinya atau mungkin tidak bisa mendengar suara ustadz dengan jelas jika anak kecil tersebut menangis atau gaduh. Duduklah di deretan para lajang/sebaya. Biasanya mereka sudah paham sendiri bahwa yang membawa anak duduknya di deretan belakang.
5. Fokus

Ketika ustadz sudah memulai kajiannya, hentikan pembicaraan,tutup mulut rapat-rapat dan buka telinga lebar-lebar, siapkan hati dan pikiran, siap mencatat segala apa yang diucapkan oleh ustadz. Bicara apabila memang perlu dan mendesak saja. Urusan lain masih bisa ditunda setelah ta'lim selesai.

Tips khusus point ke-5:
Untuk point ke-5 ini sebenarnya suka-suka Anda mau bagaimana, apakah mencatat point-point penting saja dengan kalimat sendiri/meringkas perkataan ustadz, faidahnya saja, ataukah mencatat seluruh perkataan ustadz kata perkata. Sebisa dan semampu Anda saja, tetapi kalau saya lebih senang mentranskrip ucapan ustadz kata perkata termasuk tanya jawabnya. 
Terlebih jika itu dauroh tematik, baiknya ya ditranskrip karena biasanya sudah terstruktur juga apa yang akan disampaikan oleh ustadz. Tetapi kalau ta'lim rutin, lihat-lihat siapa ustadznya. Kan ada ustadz yang tipenya santai yang tidak hanya sekedar menjelaskan matan kitab saja tapi juga menyelipkan hal-hal lain yang mungkin tidak terlalu penting (mungkin diselingi candaan), atau membahas masalah lain di luar pokok bahasan, atau pada bagian itu Anda merasa tidak perlu untuk mencatatnya karena pada pertemuan sebelumnya sudah disampaikan yang kemudian diulangi lagi, silakan mau dicatat atau tidak. Namun, apabila ustadznya tipenya semua apa yang diucapkan adalah penting yaitu menerjemahkan matan dan syarh kitab, menggunakan point-point kemudian masih memberikan penjelasan tambahan yang dikutip dari kitab lain atau perkataan ulama lain yang tidak ada di kitab yang sedang dibahas, maka sebisa mungkin dicatat semua. Dengan menulis lengkap ucapan ustadz apa adanya, akan memudahkan kita saat membaca ulang catatan kita, atau jika mungkin suatu saat buku catatan kita dipinjam oleh teman, dia tidak kesulitan untuk memahami faidah dari ustadz walaupun hanya dengan membaca apa yang kita tulis di buku catatan.

Dulu saya sendiri sering mengalami kesulitan jika menyimak sambil membawa kitab gundulnya karena jika membawa kitab, timbul 4 keinginan yaitu mendengarkan bacaan ustadz, memberi harakat, memberi arti jika ada kosa kata Arab baru pada kitabnya, dan mencatat penjelasan tambahan dari ustadz. Nah kalau begini kan jadi terhambat untuk mentranskrip seluruh ucapan ustadz. Ini bagi saya, lain halnya dengan yang sudah mahir bahasa Arab atau yang sudah terbiasa begitu. Ada dua hal yang tidak bisa dilakukan bersamaan yaitu menambahkan arti pada kata-kata baru dalam kitab dan mencatat penjelasan ustadz. Artinya jika dia memilih untuk menuliskan arti di kitab, maka ia akan terhambat dari mencatat penjelasan ustadz secara lengkap. Sebaliknya, jika dia memilih untuk mencatat seluruh perkataan ustadz, maka dia terhambat dari menuliskan terjemahan kata-kata baru pada kitabnya.
Namun seiring berjalannya waktu, belajar dari pengalaman maka cara berikut bisa dijadikan sebagai pilihan. Jadi, ketika mendengarkan ta’lim secara langsung cobalah konsentrasikan mendengarkan bacaan ustadz dengan melihat kitab sambil memberi harakat pada kata-kata baru kemudian segera mencatat penjelasan ustadz di buku catatan. Adapun menuliskan arti pada kitab bisa dilakukan ketika memuroja’ah/mengulang pelajaran ketika di rumah. Cara ini bisa meminimalkan terlewatnya faidah dari ustadz. Namun, perlu diingat bahwa hal ini hendaknya dilakukan pada hari yang sama karena jika ditunda-tunda, maka bisa jadi beberapa istilah sudah terlupakan artinya. Namun jika catatan kita lengkap, kita masih bisa mengira-ngira artinya dengan cara mencocokkan dengan catatan atau lebih selamatnya silakan membuka kamus bahasa Arab. Apabila kita memilki alat perekam, maka akan sangat membantu tetapi jangan sampai menjadikan kita terlena dan bersantai-santai dengan adanya alat perekam.

Allahu a'lam. Semoga Allah memberikan kemudahan bagi para penunutut 'ilmu syar'i.


read more - TIPS SAAT TA'LIM

Friday, August 8, 2014

DAURAH ILMIAH AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH “MIRATSUL ANBIYA” KE-10 1435 H/2014 M

Bismillah
Alhamdulillah, dengan pertolongan dan taufik dari Allah, insya Allah akan hadir kembali…


DAURAH ILMIAH AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH 

“MIRATSUL ANBIYA” Ke-10

1435 H/2014 M

dengan tema

“URGENSI ULAMA DI TENGAH UMAT KETIKA FITNAH MELANDA”

dengan pembicara:

Asy-Syaikh Khalid azh-Zhafiri (Kuwait)
Asy-Syaikh Badr bin Muqbil azh Zhafiri (Arab Saudi)
Asy-Syaikh Hani bin Buraik (Arab Saudi)

Asy-Syaikh ‘Ali bin Husain asy-Syarafi (Yaman)

Kajian umum insya Allah diselenggarakan di Masjid Agung Manunggal, Bantul pada Sabtu-Ahad, 13-14 Syawal 1435 H (9-10 Agustus 2014)
Daurah asatidzah di Ma’had al Anshar, Kamis-Sabtu, 11-20 Syawal 1435 H (7-16 Agustus 2014).
Kajian ini insya Allah bisa diikuti melalui:
Radio Rasyid (http://radiorasyid.com)
Radio Miratsul Anbiya Indonesia (http://miratsul-anbiya.net)
Radio Salafy.or.id (http://salafy.or.id)
Info Tambahan:
Insya Allah akan ada taushiyyah al-Walid al-’Allamah asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah
[ teleconference]
Keterangan : Asy-Syaikh Usamah bin Sa’ud al-’Amri hafizhahullah berhalangan hadir
♦ ♦ ♦

Ta’awun Dana untuk Daurah

bisa disalurkan melalui

Bank Mandiri. No rekening 9000002394642 a.n. LUWIH AGUS TRIYONO. Mandiri Kaliurang

BCA No. rekening 8610124705, a.n BUSONO SUPRAPTO. BCA KCP Kaliurang

Konfirmasi pengiriman dana ke no. 0858-6812-9542,  +62 823-2940-6754

Laporan dana yang sudah masuk akan di tampilkan Di salafy.or.id dan miratsul-anbiya.net



JADWAL DURUS

DAURAH MIRATSUL ANBIYA KE-10

11-20 Syawwal 1435 H / 7 – 16 Agustus 2014 M
= Khusus Asatidzah =

Waktu (WIB)     Materi                                          Pemateri
05.00—06.15      Al-Qaulus Sadid                           Asy-Syaikh Khalidz azh-Zhafiri
08.30—09.45      Matan Lum’atul I’tiqad           Asy-Syaikh Badr azh-Zhafiri
10.15—11.30        Nukhbatul Fikar                          Asy-Syaikh Ali Husain asy-Syarafi
15.45—17.00      Talkhish al-Qawaid                    Asy-Syaikh Hani bin Braik
                                  al-Khams al-Kubra
19.30—21.00      Nukhbatul Fikar                          Asy-Syaikh Ali Husain asy-Syarafi


PDF Materi Dauroh Miratsul Anbiya ke 10 dapat di download di http://miratsul-anbiya.net/


Sumber: miratsul-anbiya.net dan salafy.or.id
read more - DAURAH ILMIAH AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH “MIRATSUL ANBIYA” KE-10 1435 H/2014 M

Thursday, August 7, 2014

BANGKITLAH WAHAI JIWA


Bismillah
“Hari ini jualanku tak selaris kemarin.”
“Sudah jam segini tapi belum juga ada penumpang.”
“Ternyata dia bagaikan serigala berbulu domba, tega-teganya mengkhianati kepercayaanku.”
“Rezekiku bukan di sini, aku tidak lolos seleksi.”
“Qadarullah, mungkin belum jodoh.”
"Jika aku boleh memilih, aku lebih memilih untuk tidak pernah mengenalmu daripada harus melupakanmu."

Pernyataan di atas adalah sedikit ilustrasi dari kejadian-kejadian yang dialami manusia. Ya, siapa yang hidupnya lurus-lurus saja? Siapa yang jalan taqdirnya selalu mulus? Siapa yang tidak pernah sedih? Siapa yang tidak pernah gagal? Yang tidak pernah merasakan goncangan-goncangan dan kerikil-kerikil kehidupan, adakah? Jawabannya adalah tidak ada. Semua orang pasti pernah merasakan kegagalan atau paling tidak ia pernah merasakan sesuatu yang tidak mengenakkan dalam hidupnya. Entah itu dalam perkara sepele ataupun perkara besar. Sebagaimana perasaan cinta yang hinggap dalam qalbu manusia. Tidak semua mulus jalannya, tidak semuanya sesuai harapan, tidak seluruhnya berakhir bahagia.

*******************************
Menghadapi kenyataan pahit, tentu perlu solusi untuk memaniskan kembali hembusan realita.
Sebagaimana pahit dan sakitnya hati, tentu perlu solusi untuk memaniskannya kembali.
Atau sebelum manis, jadikan ia tawar terlebih dahulu. (by someone)
*******************************

Wahai jiwa, tersenyumlah
Bangkitlah untuk hari esok
Masa depan menantimu
Tak usah menoleh ke belakang
Tak usah terlalu memikirkan yang sudah berlalu
Tidak ada manusia yang tidak punya masa lalu
Jadikanlah sebagai pelajaran
Tataplah ke depan
Teruslah melangkah ke depan
Jangan terbuai dengan masa lalu yang kelabu
Jangan berlarut-larut dalam angan-angan yang belum tentu bisa kau raih
Jangan tersibukkan dengan sesuatu yang belum tentu bisa kau gapai
Genggamlah apa yang ada di dekatmu
Jagalah apa yang telah menjadi milikmu
Namun, bukan berarti engkau sudah tidak punya harapan lagi
Harapan selalu ada
Tidak ada sesuatu yang tidak mungkin jika ada ikhtiar dan doa
Ada Sang Pembolak-balik Hati di atas sana
Apabila Sang Pemilik Jiwa menghendaki terjadi maka terjadilah
Anggap penghalang-penghalang itu semua sebagai penghias hari-harimu
Anggap sebagai warna-warni kehidupanmu
Tetap berjuanglah untuk apa yang kau impikan dan cita-citakan
Tapi tetaplah realistis!
Semangat meraih cita-cita!
Semangat berjuang!


Dini hari, 9 Ramadhan 1435 H/ 7 Juli 2014
read more - BANGKITLAH WAHAI JIWA

Friday, August 1, 2014

ANY PROBLEMS? NO PROBLEM


Di dunia ini, adakah manusia yang tidak punya masalah? Manusia yang hidupnya biasa-biasa saja, hidupnya lurus, mulus, dan datar. Ibarat jalan tol yang pengendaranya bebas melaju kencang tanpa hambatan, tanpa ada kerikil dan lubang jalan, tanpa lampu merah, tanpa tikungan, dan tanpa ada kemacetan. Wuiiiih, mantap kan… indahnya hidup tanpa masalah. Nah lho, iyakah? Benarkah anggapan yang demikian?
Sejauh penglihatan saya, hidup tanpa masalah adalah sesuatu yang mustahil. Setiap manusia punya jalan hidup masing-masing dan setiap jalan yang dilalui pasti ada saja rintangannya. Rintangan tersebut pun bisa sama, bisa juga beda entah dalam hal jenis ataupun kuantitasnya. Kalaupun ada manusia yang tidak punya masalah itu hanya ada dalam cerita-cerita fiktif (eh tapi malah bermasalah terus kayaknya, ya karena memang diskenariokan penuh dengan masalah, hehe) atau pada hakikatnya dia punya masalah tetapi dia tidak menyadarinya atau tidak menganggap bahwa itu masalah, paham kan? Jika direnungkan pasti kita pernah sesekali mengalami hal-hal yang sulit/tidak mengenakkan -sesepele apapun itu- entah misalnya tersayat pisau, tidak sengaja memecahkan piring, kehujanan, kecipratan genangan air di jalan, kepleset, dikejar-kejar anjing, terlambat masuk sekolah/kerja, terlupa belum belajar padahal keesokan harinya ulangan, dimarahi kondektur bus karena ongkosnya kurang, kehilangan barang, tidak punya uang, dibicarakan yang tidak-tidak oleh teman, konflik dengan orang tua, dan seabreg ‘kemalangan’ yang lain. Atau hal-hal yang besar seperti misalnya dagangannya rugi, tidak laris, atau tidak lolos seleksi rekruitmen kerja. Jika dipikir-pikir kok ada saja kejadian-kejadian unik yang menimpa kita dan seolah-olah tidak ada habis-habisnya.
Namun dilihat dari sisi pandang yang berbeda, hidup tanpa masalah itu ibarat sayur tanpa garam. Bagaimana rasanya? Hambar alias tidak berasa, tidak enak. Ingat pelajaran Bahasa Indonesia yang membahas ungkapan? Pada kalimat ‘Ia telah banyak makan asam garam kehidupan’, maknanya adalah ia telah mengalami berbagai peristiwa dalam hidupnya, sudah banyak pengalaman hidupnya. Nah, secara logika tentunya semakin bertambah umur semakin banyak pula apa yang dialami oleh seseorang dan semakin banyak pula cerita dalam hidupnya. Dan apa yang dialami oleh seseorang itu tentu saja tidak selalu berupa kebahagiaan dan anugerah tetapi adakalanya berupa masalah. Ibarat roda, kadang di atas kadang pula di bawah silih berganti hingga roda itu berhenti berputar. Begitu pula roda kehidupan seseorang, ia akan mengalami masa-masa senang dan masa-masa sulit silih berganti hingga akhirnya sang pemilik jasad meninggal. Bahkan masalah tidak berhenti walaupun jasad telah masuk ke liang lahat. Orang mati pun masih diuji yaitu ia harus berhadapan dengan dua malaikat Allah dan harus siap menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh kedua malaikat Allah tersebut.
Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.  Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan. (QS. Al Anbiya’: 35)

Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu; dan akan Kami uji perihal kamu. (QS. Muhammad: 31)

Karena kita sudah tahu bahwa kita hidup tidak mungkin tanpa masalah, maka perlu kita membekali diri dengan ilmu agar kita tidak salah langkah. Bagaimana seseorang bisa menyelesaikan masalah dengan baik jika ia tidak berbekal ilmu? Jika seseorang menyelesaikan masalah tanpa ilmu, mungkin memang satu masalah teratasi tapi timbul masalah baru yang tidak kalah pelik. Ini namanya keluar mulut buaya masuk mulut harimau. Inilah pentingnya berilmu sebelum berucap dan berbuat. Dengan ilmu, seseorang akan dapat mengatasi masalah hidupnya dengan pikiran dan hati yang jernih sehingga melahirkan solusi yang tepat. Ingatlah selalu janji Allah, 

 “Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. (QS. Ath Thalaq: 2-3)

Orang yang berilmu, ia akan selalu berhusnuzhan terhadap apa saja yang menimpanya dan berusaha mensyukuri apa saja ketetapan dari Rabb-nya. Jika mendapat cobaan ia bersabar dan jika mendapat kenikmatan ia bersyukur. Ingat! Manusia ada tiga tingkatan dalam menghadapi takdir Allah, yaitu marah, sabar, dan syukur. Sabar itu wajib dalam setiap keadaan karena jika ia tidak sabar maka berarti ia marah, ia tidak ridha terhadap ketentuan Allah. Jadi minimalnya adalah kita bersabar sedangkan syukur merupakan derajat yang paling tinggi.
Masalah itu fitrahnya manusia. Setiap masalah pasti ada solusinya. Oleh karena itu, ayo bangkit! Jangan merasa sebagai orang yang paling menderita, tidak pernah bahagia, paling sengsara sedunia. Semua orang punya masalah masing-masing. Bahkan sebenarnya masalah itu tidak semata-mata berupa kesengsaraan melainkan kenikmatan pun bisa menjadi masalah apabila tidak digunakan sebagaimana seharusnya. Orang yang diberi kenikmatan-kenikmatan oleh Allah sementara ia tidak mengingat Allah bahkan bermaksiat kepada Allah tetapi Allah tetap memberi kenikmatan kepadanya bisa jadi  itu adalah sebagai bentuk istidraj Allah, ia dibiarkan bergelimang dalam harta, kedudukan, dan kenikmatan-kenikmatan dunia, dan tidak diberi peringatan sehingga ia terus larut dalam kemaksiatannya. Na’udzubillah min dzalik. Jangan terpuruk dengan ketetapan yang membuatmu sedih, gundah gulana, atau yang menurutmu buruk untukmu. Ingat, boleh jadi engkau membenci sesuatu padahal itu baik bagimu dan boleh jadi engkau mencintai sesuatu padahal itu buruk bagimu. Allah Maha Mengetahui apa-apa yang terbaik bagi hamba-Nya. Kalaupun engkau tidak mendapat kebahagiaan dunia maka carilah kebahagiaan akhirat. 
HAVE ANY PROBLEM? NO PROBLEM.
SEMANGAT KAWAN!

read more - ANY PROBLEMS? NO PROBLEM

Monday, September 9, 2013

Serba-Serbi Ikhwan Akhowat


Dulu saya pikir enak ya jadi ikhwan, bisa talaqqi di hadapan para ulama, bermajelis langsung di depan asatidzah. Dulu saya pikir enak ya jadi ikhwan, bisa bepergian kemana saja sendirian. Dulu saya pikir enak ya jadi ikhwan salafi, ngaji tanpa pusing memikirkan penampilan karena penampilan nyunnahnya laki-laki itu tidak berbeda jauh dengan laki-laki yang ngaji di majelis lain semisal ikhwah kampus yang benar-benar mengamalkan sunnah, atau jama’ah-jama’ah lain yang juga benar-benar mengamalkan sunnah. Mereka sama-sama bercelana cingkrang atau tidak isbal (di atas mata kaki), berjenggot, dan memakai penutup kepala. Mungkin bedanya kalau ikhwah salafi lebih suka memakai gamis dipadu sarung atau sirwal, atau pakaian yang panjangnya sampai betis (jubah) kemudian memakai peci putih, sedangkan ikhwah lain mungkin lebih sering terlihat hanya memakai hem lengan pendek atau hem batik dipadu dengan celana, serta jarang yang memakai penutup kepala atau mungkin ada yang memakai kupluk (peci hitam). Tidak terlalu berbeda tetapi tetap masih dapat dibedakan.
Berbeda dengan akhowat salafiyyah, perbedaan mereka dengan perempuan-perempuan lain sangat jauh dari segi penampilan. Mereka memakai pakaian yang berwarna gelap, seringnya serba hitam, berkaos kaki, bersarung tangan, dan bercadar (penutup wajah kecuali mata) bahkan berpurdah (penutup kepala). Sementara wanita-wanita lain tidak perlu saya tuliskan di sini sepertinya bagaimana-bagaimananya. Yang jelas, jauh sekali perbedaannya. Hal ini membuat akhowat salafiyyah terlihat mencolok sekali. Hal ini pulalah yang saya kira menjadi salah satu sebab tidak mudahnya seorang perempuan beralih menjadi seorang perempuan salafiyyah entah karena faktor dari dirinya sendiri yang masih belum siap ataukah karena faktor keluarga yang belum mengizinkan. Namun, pada tulisan ini saya bukan bertujuan menyebutkan kelebihan menjadi seorang laki-laki dibandingkan menjadi seorang perempuan melainkan saya akan menyebutkan persamaannya, sedikit saja.
Ya, siapa bilang hanya kaum perempuan salafiyyah yang mendapat pertentangan dari keluarga? Siapa bilang seorang ikhwan salafi tidak ada yang mendapat pertetangan dalam keluarga? Pada tulisan sebelumnya saya telah membuat tulisan yang berkaitan dengan akhowat salafiyyah. Nah, kali ini saya akan menuliskan sedikit saja tentang ikhwah salafi. Bukan bermaksud sok tahu walaupun ada unsur sok tahu juga, hehe, tetapi saya di sini hanya akan menulis yang pernah saya dengar dari cerita orang, sedikit saja karena saya pun tidak tahu banyak kehidupan mereka.
Bukan hanya akhowat yang punya kisah perjuangan, melainkan ikhwah pun punya cerita tersendiri. Tidak sedikit yang harus terseok-seok dalam bermetamorfosis walaupun tidak sebanyak akhowat. Saya tidak bisa memberikan trik bagi seorang ikhwan karena laki-laki diciptakan memiliki akal yang sempurna jadi tentunya akan lebih kreatif daripada perempuan. Terlebih saya tidak tahu kehidupan ikhwah tetapi mungkin trik bagi akhowat yang pernah saya tulis pada tulisan sebelumnya (TRIK) bisa diaplikasikan juga.
Perjuangan keras akhowat adalah pada saat metamorfosis awal yaitu ketika ia sebagai perempuan biasa kemudian bertekad untuk menjadi  lebih baik, menyempurnakan hijabnya. Sebagian besar mereka akan banyak mendapat tekanan, halangan, dan berbagai rintangan baik dari keluarga maupun dari lingkungan. Dan jalan keluar terakhir setelah segala jurus ditempuh sebagaimana pernah saya katakan adalah dengan menikah. Orang tua yang memiliki anak bercadar cenderung akan lebih senang jika anaknya tersebut segera menikah, saya paham sekali hal ini. Oleh karena itu, konsekuensinya adalah orang tua akan mendapat menantu seorang ikhwan salafi. Ini adalah titik terang bagi seorang akhowat dan insyaa Allah mudah jalannya. Tentunya dengan izin dan pertolongan dari Allah orang tua bisa dengan mudah menerima kondisi calon menantunya tersebut karena yang benar-benar menerima keadaan anaknya yang sekarang adalah ikhwah salafi.
Berbeda dengan ikhwah salafi, mereka sebagian besar tidak mendapat pertentangan keras pada awal-awal ngaji (tanpa menafikan ikhwah yang mendapat pertentangan sejak awal ngaji lho ya). Barulah ketika mereka hendak menikah kemudian mengutarakan kriteria calon isteri yang diinginkan kepada orang tua, orang tua baru paham majelis apa yang ternyata selama ini diikuti oleh anaknya. Ketika calon isteri yang diinginkan adalah perempuan yang telah berhijab syar’I, maka tanggapan orang tua pun beragam, ada yang mendukung, ada yang menyerahkan pilihan kepada anaknya, ada yang menentang dan tidak membolehkan, ada yang mencarikan calon menantu sesuai keinginan sendiri, dsb. Jika engkau berada pada keadaan pertama atau kedua, maka bersyukurlah. Namun jika engkau berada pada keadaan ketiga atau keempat, maka bersabarlah.   
Mungkin di benak kalian ada yang heran kok saya (perempuan) bisa tahu? Ya, saya mengetahuinya dari cerita orang-orang. Saya punya beberapa kakak kelas SMA yang sejak SMA mereka termasuk ikhwah ngaji. Mereka yang mengusahakan agar ada jadwal kajian rutin yang diisi oleh ustadz salafi di masjid SMA. Penampilan mereka pun sudah nyunnah sejak dahulu walhamdulillah. Namun, qoddarolloh selepas lulus dari SMA kemudian kuliah, saya dengar kabar bahwa beberapa di antara mereka tidak seperti dulu lagi dan puncaknya adalah mereka kemudian menikah dengan perempuan awam. Entah karena memang ada pertentangan dari keluarganya atau karena telah futur, wal iyadzubillah, semoga Allah membalikkan hati mereka kembali kepada al haq. Semoga Allah menjaga kita. Ada pula ikhwan yang belum juga menikah dikarenakan orang tuanya tidak mau kalau calon menantunya bercadar. Ada lagi ikhwan, masih muda, keluarganya menerima jikalau nanti mendapat menantu bercadar. Namun, qoddarollah karena sudah lama belum jua mendapatkan calon yang berhijab syar’i sedangkan mungkin godaan syahwat semakin kuat karena ia pegawai kantor yang notabene terdapat unsur ikhtilat di dalamnya sehingga mau tidak mau ia harus berinteraksi dengan wanita, lantas ia berkata kepada wasilahnya, “Kalau tidak dapat akhowat salafi, yang awam saja ndak apa-apa.” Hey! Engkau mau mempertaruhkan keselamatan agamamu? Pernikahan itu bukan hanya sekedar untuk menjaga kemaluan! Mungkin ada yang berpikir, “Nanti insyaaAllah dia mau kalau saya suruh ngaji, saya suruh pakai cadar.” Oh ya? Yakin? Bagaimana jika malah engkau yang terbawa arus? Jujur miris saya mengetahuinya walaupun penampilan lahiriyah bukan tolok ukur mutlak ketaqwaan seseorang. Bersabarlah sedikit lagi yaa ikhwah…
Melihat banyak kasus yang terjadi, sepertinya tidak mengapa saya sampaikan di sini. Saya hanya ingin sedikit memberi saran kepada ikhwah salafi yang belum mendapat izin untuk menikahi  seorang akhowat yang telah memakai hijab sempurna ataupun ikhwah yang tengah mencari pasangan hidup yang demikian tetapi belum jua mendapatkan. Untuk yang belum diizinkan karena orang tua belum siap memiliki menantu bercadar, tetap bersabarlah, jangan putus asa, minta tolonglah kepada Allah agar dimudahkan jalannya. Tetaplah berusaha agar mendapat restu dari orang tua. Berusahalah untuk mendapatkan kedua-duanya yaitu keridhoan orang tua dan isteri shalihah. Ini pun butuh proses, seberapa lama waktu yang dibutuhkan tergantung dari karakteristik orang tua dan bagaimana cara yang engkau upayakan. Jangan lantas menyerah kemudian memilih yang ala kadarnya. Wanita yang baik untuk laki-laki yang baik. Ingat! Isteri adalah madrasah pertama bagi anak-anakmu kelak. Jagalah anak keturunanmu! Salah satu upaya menjaga keturunan sebelum mereka lahir adalah dengan engkau mencari pasangan yang shalihah, wanita yang baik agamanya. Begitu pun kepada yang sedang mencari calon tetapi belum jua mendapatkan. Bersabarlah, yakinlah ada calon yang baik yang Allah siapkan untukmu dan ia sedang mempersiapkan diri agar pantas bersanding denganmu.
Bagi yang benar-benar menginginkan calon isteri dari kalangan akhowat bercadar, pastikan engkau telah mengutarakan hal itu kepada orang tuamu jauh-jauh hari sebelum engkau memutuskan untuk siap menikah. Hal ini untuk mengantisipasi jika orang tuamu keberatan, maka engkau masih punya waktu, kesempatan, dan harapan untuk mengubah pendirian orang tua. Tentunya engkau lebih tahu bagaimana kondisi orang tuamu. Pikirkan baik-baik dan rencanakan matang-matang setiap apa yang akan engkau lakukan. Semoga Allah memudahkan urusanmu dan memberkahimu.

Allohu a’lam
read more - Serba-Serbi Ikhwan Akhowat

Tuesday, August 13, 2013

DAUROH MASYAYIKH NASIONAL 2013

Bismillahirrahmanirrahim
Alhamdulillah, dengan izin dan pertolongan Allah, insya Allah akan
hadir kembali:
KAJIAN ISLAM ILMIAH AHLUS SUNNAH WAL JAMAAH 2013
dengan tema
MENGGAPAI KEBAHAGIAAN HAKIKI DENGAN MENERAPKAN WARISAN PARA NABI

Pembicara:
1.    Asy-Syaikh Khalid azh-Zhafiri
2.    Asy-Syaikh Hani Salim Buraik
3.    Asy-Syaikh Badr al-Badr
Tempat:
1.    Kajian Umum: Masjid Agung Manunggal, Jl. Jenderal Sudirman no. 01,
Bantul, DIY
2.    Kajian Khusus Asatidzah: Ma’had Al-Anshar, Dusun Wonosalam, Desa
Sukoharjo, Kec. Ngaglik, Kab. Sleman, DIY
Waktu:
1.    Kajian Umum:
Hari/Tgl: Sabtu—Ahad, 24—25 Agustus 2013 (18—19 Syawal 1434 H)
Jam    : 09.00—selesai
2.    Kajian Khusus Asatidzah
Hari/Tgl : Kamis—Sabtu, 22—31 Agustus 2013 (16—25 Syawal 1434 H)
Kontak:
Kajian Umum    : 0274-7453237
Kajian Khusus Asatidzah: 081328022770
Informasi Umum: 085747566736
Untuk Putri bisa diikuti di:
•    Ma’had Ar-Ridho Putri
Dusun Dagaran, Sewon, Bantul
•    Tarbiyatul Athfal Ibnu Taimiyah
Jl. Palagan Tentara Pelajar, Sedan, Sariharjo, Ngaglik, Sleman
Livestreaming insya Allah bisa diikuti di:
www.salafy.or.id
Paltalk: Room Religion & Spirituality>Islam>salafiyyin
read more - DAUROH MASYAYIKH NASIONAL 2013

Sunday, August 11, 2013

Terkadang Nekat itu Perlu

Bismillahirrahmanirrahim,
Tulisan ini merupakan potongan dari tulisan sebelumnya yaitu ‘Trik Mencuri Hati Orang Tua (Untuk Para Akhowat yang Bertekad Akan Bercadar)’ poin ke-6. Sengaja saya post-kan lagi di sini. 
Semoga Allah merahmati para wanita yang memperjuangkan hijabnya. Seberapa lama perjuangan seorang akhowat untuk akhirnya bisa mengenakan cadar dalam keadaan keluarganya awalnya menentang pendiriannya itu ditentukan oleh bagaimana cara dia dan bagaimana karakter keluarganya, tanpa menafikan semua itu terjadi atas pertolongan Allah semata. Bagi akhowat yang sudah sekian tahun lamanya berjuang tetapi belum membuahkan hasil berupa keridhoan orang tua dan untuk akhowat yang berpikir “Harus sampai kapan begini terus. Kalau bukan sekarang kapan lagi toh pada akhirnya aku akan memakainya juga”, trik ini tidak ada salahnya untuk dicoba. Namun, ini hanya boleh dipraktikkan oleh akhowat yang benar-benar tegar dan tahan banting. Ia harus memegang erat pendiriannya dan harus siap dengan segala konsekuensi dari pilihannya tersebut.
Lantas nekat yang bagaimana yang dimaksud? Saya contohkan begini: Misalnya engkau adalah seorang akhowat yang kuliah di luar kota sehingga mengharuskan safar dan ngekost, jarang pulang, tinggal jauh dari orang tua. Dengan demikian, orang tua tidak tahu apa saja yang dilakukan olehmu termasuk dalam hal penampilan. Apabila setelah mengenal salaf engkau memutuskan untuk bercadar tetapi ditentang orang tua, sebenarnya itu wajar terjadi pada keluarga yang masih awwam. Sejak engkau memutuskan untuk memilih mengikuti sunnah pasti akan banyak konflik dari keluarga yang belum paham. Namun, tidak masalah engkau bercadar di sana karena orang tuamu pun tidak tahu jika tidak ada yang bercerita, kecuali jika engkau ngekost bareng saudaramu, maka engkau harus bersabar atau pintar-pintarnya kongkalikong dengannya. Hitungan dua tiga tahun belum tentu cukup untuk merubah pendirian mereka tergantung bagaimana cara kita mendekati mereka dan karakter mereka sendiri seperti apa.
Dari beberapa kasus yang saya temui, terkadang orang tua yang masih awwam malah mudah untuk menerima kebenaran sedangkan orang tua yang paham agama misalnya ia seorang guru agama atau tokoh masyarakat ia sulit sekali untuk menerima karena pertimbangan buruknya pandangan warga terhadapnya, malu dengan kolega-koleganya, dan sebagainya. Namun, orang tua yang punya pengaruh dalam masyarakat ini jika kita sudah berhasil mengambil hatinya, maka semua akan terasa mudah. Orang lain tidak akan berani mengusik kita bahkan mungkin orang-orang menjadi terbuka matanya dan tertarik dengan apa yang kita amalkan.
Kembali ke pembahasan trik nekat ini. Jika engkau sudah paham syariat kemudian engkau telah bercadar di daerah safarmu, maka cobalah engkau pulang memakai jilbab yang engkau pakai ke majelis, mungkin awal pertama kali pilih warna selain hitam agar orang tuamu tidak shock tetapi tetap harus warna-warna gelap, hanya saja cadarnya engkau ganti dengan slayer yang engkau buka ketika sudah sampai di depan rumah. Setiap engkau pulang panjangkan jilbabmu secara periodik dan coba dengan warna hitam. Pelan tapi pasti. Amati sikap orang tua adakah pertentangan atau tidak. Lanjutkan terus hingga engkau nyaman dengan panjang jilbabmu yang sekarang. Puncaknya adalah engkau merayu dengan kalimat yang halus agar diperbolehkan memakai cadar atau engkau berkata jujur bahwa selama ini di daerah safar telah memakai cadar. Namun, jika engkau sudah sekian tahun meminta izin untuk memakai cadar tetapi belum juga diizinkan, maka cobalah nekat pulang memakai cadar. Engkau akan beruntung jika di jalan bertemu dengan tetanggamu atau kebetulan di rumahmu sedang ada tetanggamu yang main atau kebetulan ada kerabat laki-laki yang bukan mahram sedang di rumahmu. Jangan kau lepas cadar itu ketika di rumah. Dengan begitu, karena sudah ada warga yang tahu maka mau tidak mau orang tua pasti tidak enak melarangmu memakai cadar lagi. Apa kata tetangga nanti, mungkin begitu pikiran orang tua.
Namun bagi yang qoddarolloh orang tuamu masih juga melarang, bahkan karena itu engkau tidak dibolehkan keluar rumah, maka cari kesempatan ketika mereka sedang tidak ada di rumah. Ketika engkau mendapati mereka pergi, itulah kesempatanmu. Coba engkau keluar rumah misalnya menyapu halaman, membersihkan pekarangan atau aktivitas di luar lainnya, tentu dalam keadaan engkau memakai cadar. Sapa tetangga yang lewat di depan rumahmu. Dengan begitu pikiran buruk orang-orang terhadap perempuan bercadar insya Allah akan luntur. Masyarakat tidak akan berbicara buruk perihal engkau malah mungkin akan membicarakan kebaikan-kebaikanmu.
Nanti jika Allah menghendaki orang tuamu mengetahui hal ini dari tetanggamu, engkau harus siap dengan segala konsekuensi yang akan terjadi. Serahkan semua kepada Sang Pengatur, minta pertolongan kepada Allah agar dimudahkan urusanmu. Berdoalah semoga Allah meluluhkan hati orang tuamu. Tetap tunjukkan akhlaq yang baik. Insyaa Allah ini tidak sengeri yang engkau bayangkan. Tidak perlu dipikir berat-berat apabila terdengar cibiran dari masyarakat tentangmu.  Apapun musibah yang Allah timpakan kepadamu itu tidak seberapa dibandingkan nikmatnya engkau berada di atas hidayah, tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan keselamatan agamamu. Berdo’alah semoga Allah memberikan kemudahan bagi kita untuk mengerjakan amal shalih. Sesungguh-Nya Allah Maha Mengabulkan do’a hamba-Nya. Nanti engkau bisa jadi akan berkata di dalam hati, “Mengapa tidak dari dulu saja aku pakai di sini,” (hehe). Luruskan niat semata-mata hanya mengharap wajah Allah. Seseorang akan mendapatkan apa yang dia niatkan.
Ketika engkau berusaha untuk menjalankan As Sunnah, maka tinggalkan semua yang membuat ragu, tinggalkan godaan syaithan yang membisikkan bahwa kamu belum mampu, jangan ikuti hawa nafsu, jangan timbang-timbang dengan perasaanmu. Sesungguhnya agama ini tidak dibangun oleh hawa nafsu (perasaan). Saya tidak bermaksud mengajarkan anak untuk membangkang kepada orang tua, wal iyadzubillah. Akan tetapi, dalam hal ini insyaa Allah seorang anak tidak berdosa karena tidak ada ketaatan pada makhluq dalam bermaksiat kepada Allah. Namun saya ingatkan, engkau lebih tahu kadar dirimu. Engkau pun lebih tahu kondisi orang tuamu dan lingkungan desamu. Pikirkan matang-matang setiap gerak-gerikmu. Keberhasilanmu tergantung pada usahamu dan semata-mata atas pertolongan Allah.

Wallahu a’lam, semoga ini bisa menjadi penyemangat bagi kalian ya akhowati fillah.
read more - Terkadang Nekat itu Perlu

Trik Mencuri Hati Orang Tua (Untuk Para Akhowat yang Bertekad Akan Bercadar)



Bismillahirrahmanirrahim,
Banyak di antara para akhowat yang ia bagaikan bunglon. Kenapa saya mengatakan begitu? Bukan karena pakaiannya berubah warna sesuai warna tempat yang ia ada di atasnya, bukan pula berubah-ubahnya penampilannya menyesuaikan situasi lingkungan yang ia datangi semisal ketika di sekolah jilbabnya besar tetapi ketika di kampung tidak pakai jilbab. Bukan demikian, tidak seekstrem itu. Yang saya maksud bagai bunglon di sini adalah suatu saat ia memakai cadar namun pada saat lain ia melepasnya.
Saya contohkan di sini apa yang dialami akhowat kuliahan karena lingkungan kampus sangat dekat dengan saya. Ada seorang akhowat yang tinggal satu kota dengan kampusnya ketika di kampus ia memakai cadar tapi ketika pulang, sesampainya di gang menuju rumah ia terpaksa melepasnya. Ada pula yang karena masih lemahnya imannya ia belum berani memakainya ketika di kampus tetapi ketika berangkat ta’lim ia memakainya. Ada pula yang karena adanya larangan dari pihak kampus, sewaktu di kampus ia belum pakai cadar atau hanya memakai slayer yang ia buka sewaktu masuk kelas kemudian ketika keluar kemanapun itu ia memakai cadarnya (kecuali di lingkungan rumah). Ada juga akhowat bercadar yang kuliah di luar kota sehingga ia jarang pulang karena di rumah belum dibolehkan memakai cadar. Pokoknya serasa main kucing-kucingan, ngumpet-ngumpet sama orang tua. Seorang akhowat yang demikian memiliki alasan tersendiri yang mungkin berbeda-beda satu dengan yang lainnya. Masing-masing punya pertimbangan yang semoga apapun itu bisa menjadi udzur baginya. Sejauh yang selama ini saya lihat, penyebab terbesar yang menjadi penghalang seorang akhowat terpaksa menjadi ibarat bunglon adalah karena pertimbangan keluarga. Keridhoan dari orang tua seakan menjadi barang yang sangat mahal. Ada yang sampai dibakar pakaian dan jilbab-jilbabnya oleh orang tua, ada yang tidak diperbolehkan keluar rumah, ada yang dimarahi habis-habisan, ada yang didiamkan tidak diajak bicara, dan berbagai kisah memilukan yang lain. Allahul musta'an.
Ada nasihat untukku dan untuk para akhowat semua, ‘Bertaqwalah kepada Allah semampumu dan minta ampunlah kepada-Nya’. Semoga apapun alasanmu itu bisa menjadi udzur bagimu di hadapan Allah. Namun harus benar-benar ada usaha keras darimu untuk selalu mendapat ridho dari orang tua. Jangan lantas menjadikan udzur tersebut sebagai kambing hitam tanpa ada usaha darimu untuk keluar darinya. Misalnya setiap kali ada yang bertanya, “Kalau di kampus sudah pakai belum? Kalau di rumah?”, lalu engkau jawab dengan tanpa dosa, “Belum soalnya gak boleh sama orang tua.” Boleh menjawab demikian jika memang itu penghalangnya tetapi harus benar-benar ada usaha darimu untuk keluar dari problem ini. Jangan engkau terlena, menyerah, dan pasrah terhadap keadaan karena syaithan akan terus mengganggumu dan membisikimu agar menghentikan usahamu, membuatmu merasa nyaman dengan keadaanmu sewaktu belum memakainya dan menakut-nakutimu dengan bayangan-bayangan buruk apabila engkau memakai cadar. Ketika engkau berusaha untuk menjalankan As Sunnah, maka tinggalkan semua yang membuat ragu, tinggalkan godaan syaithan yang membisikkan bahwa kamu belum mampu, jangan ikuti hawa nafsu, jangan timbang-timbang dengan perasaanmu. Sesungguhnya agama ini tidak dibangun oleh hawa nafsu (perasaan). Teruslah berdoa, minta pertolongan Allah. Adukan kesusahan dan kesedihanmu hanya kepada Allah. Namun, jika dirasa semakin berat dan engkau tidak tahan menghadapinya sendiri silakan engkau bercerita kepada orang yang engkau percaya, hendaknya kepada orang yang menurutmu bisa memberikan solusi. Atau jika engkau tidak mendapatinya, tidak mengapa bercerita kepada teman sekedar untuk tempat curhat.
Berikut ini sedikit trik-trik yang dapat dipraktikkan untuk mencuri hati orang tua :
1.       Tunjukkan akhlaq yang baik
Poin ini punya andil besar dalam meraih ridho orang tua. Tunjukkan perilaku yang baik selama engkau bersama orang tua di rumah. Terlebih bagi anak kuliahan yang kuliah di luar daerah. Gunakan kesempatanmu yang sedikit itu untuk mencuri hati orang tua. Ketika pulang ke rumah, cium tangan orang tuamu, cium pipi kanan dan kiri. Akan lebih berkesan lagi jika ditambah dengan pelukan hangat dan kecupan di kening. Mungkin awalnya aneh atau lucu tapi nanti lama-lama juga terbiasa. Berbicaralah kepada mereka dengan sopan dan lemah-lembut, rendahkan suaramu di hadapannya. Tunjukkan bahwa salafi itu anaknya baik-baik, nurut sama orang tua, tidak membangkang orang tua. Orang tua mana yang tidak suka dengan anak sholihah seperti ini?
2.       Jadilah anak yang rajin
Kerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah yang kamu bisa, misalnya menyapu lantai, mengepel, mencuci pakaian orang tuamu, memasak, mencuci piring, dan banyak lainnya. Kalau perlu sesekali engkau minta izin untuk tidur bersama mereka, atau dengan ibu saja. Pijit mereka, makan bareng, ajak sholat bareng. Mungkin apabila engkau dahulu tidak biasa melakukan hal yang demikian, maka orang tuamu akan terheran-heran dengan perubahan sikapmu. Namun, orang tua mana yang tidak suka dengan anak yang berubah lebih baik seperti ini?
3.       Hindari debat dengan orang tua
Banyak kasus-kasus yang para orang tua terlanjur illfeel dengan salafi gara-gara terburu-burunya seseorang yang baru ngaji dalam mendakwahkan kepada keluarganya. Biasanya ini dialami oleh akhowat/ikhwah yang baru awal-awal ngaji karena begitu bersemangatnya. Bersegera mendakwahkan keluarganya itu bagus asalkan berdakwah dengan lemah-lembut dan hikmah. Bukan ketika engkau melihat kemungkaran kemudian serampangan berkata, “Itu bid’ah, ini bid’ah, itu gak ada tuntunannya, ini gak boleh, haram hukumnya!”. Lihat-lihat sikon, siapa engkau, dan siapa yang engkau hadapi. Jika engkau tergesa-gesa dan salah langkah, bukan kesadaran yang didapat melainkan mereka akan lari dari dakwah al haq ini. Namun, jika memang mereka memancing perdebatan, maka jawablah dengan sopan, lemah-lembut, tidak terkesan menggurui, misalnya dengan mengatakan, “Setahu saya …, sepengetahuan saya yang sangat sedikit ini ..., yang saya tahu bahwa ….”. Yang jelas jangan engkau yang memulai beradu pendapat dengan orang tua.  
4.       Ceritakan yang baik-baik tentang salafy
Bukan yang saya maksud harus membaca siroh sampai tamat sehingga engkau bisa menceritakan sejarah salafy, melainkan engkau ceritakan kepada orang tuamu perihal ikhwah salafy, adab-adab mereka yang baik-baik, hafalan anak-anak kecil yang masya Allah, atau cerita tentang ummahat. Jika bisa, sesekali ajaklah akhowat atau ummahat ziarah ke rumah orang tuamu agar orang tua terbiasa dengan wanita bercadar. Namun, trik ini bisa membuahkan keberhasilan tetapi ada juga yang malah semakin ditentang. Semua itu dipengaruhi karakter orang tua dan kesiapan mereka. Ada tipe orang tua yang keras dan belum siapnya mereka menerima tamu yang semacam itu, malu dilihat tetangga sehingga menjadikan mereka semakin menentang pendirian anaknya. Pada dasarnya trik mana yang sesuai untuk engkau jalankan itu engkau sendiri yang lebih bisa menentukan.
5.       Tentukan rencana masa depanmu dari sekarang
Sebagian akhowat yang sudah terlanjur kuliah karena tuntutan orang tua atau yang baru mengenal dakwah al haq (salafy) ketika kuliah, mau keluar tetapi takut dimarahi atau dengan pertimbangan jika ia keluar nanti di rumah malah tidak bisa bercadar dan ngaji, bagaimanapun keadaannya teruslah minta ampun kepada Allah atas maksiat yang dilakukan. Selanjutnya, selama kuliah itu pastikan engkau  bersemangat menghadiri majelis ilmu, hadiri ta’lim dan dauroh ahlussunnah yang diadakan di wilayah sekitar kampusmu, mumpung engkau masih di sana. Berkumpullah dengan para akhowat yang lain untuk saling mengingatkan dalam kebaikan dan taqwa karena syaithan lebih suka dan lebih mudah mengganggu orang yang sendirian. Urusan kampus segeralah dituntaskan karena semakin cepat engkau selesai maka semakin baik, insyaa Allah demikian, walaupun mungkin ada sebagian yang memilih berlama-lama di daerah safarnya karena dengan begitu ia bisa ngaji, wallahu a’lam kondisi orang berbeda-beda. Nah, sebelum engkau lulus pikirkan dari sekarang apa yang akan engkau lakukan setelahnya, apakah mencari pekerjaan yang syar’i, ke pondok untuk belajar atau ta’awun, atau kembali ke kampung halaman, atau menikah. Ini semua harus direncanakan matang-matang. Jalin persahabatan dengan  para akhowat dan ummahat. Sering-seringlah main ke pondok.
Untuk yang masih bersemangat menutut ilmu, saya sarankan untuk ke pondok setelah lulus kuliah. Sebelum lulus rajin-rajinlah ke pondok, cari tahu informasinya dari sekarang. Tentukan mau belajar atau bantu-bantu. Jika tujuannya belajar (menjadi santriwati) tentunya engkau mencari pondok yang membuka pendaftaran tarbiyatun nisa' sedangkan jika tujuan ke pondok untuk bantu-bantu (ta'awun) maka pondok manapun insyaa Allah membutuhkan. Biasanya akhowat kuliahan diposisikan sebagai tenaga pengajar pelajaran umum atau mustami’ah hafalan anak-anak, atau posisi lain sesuai dengan kemampuannya, sekaligus di sana bisa ikut dars malam hari atau pada hari-hari tertentu yang kita dibolehkan ikut dars di kelas. Hampir semua orang tua menuntut anaknya yang sudah kuliah untuk bekerja. Nah, dengan rencanamu yang sudah matang tersebut engkau bisa mengutarakan kepada orang tua secepatnya, terlebih jika pihak ma’had sudah memanggilmu, mau tidak mau orang tua akan mengizinkan engkau pergi, hehe. Demikian pula yang merencanakan hal lain, maka segeralah pikirkan hal tersebut sebelum lulus agar engkau tidak luntang-luntung di rumah. Sebenarnya ini seperti lari dari masalah, tapi setidaknya walaupun belum mendapat ridho tetapi itu bisa meminimalkan madharat insyaa Allah dengan kita jarang di rumah.

   Kelima trik di atas bisa berhasil apabila keluarganya biidznillah mudah untuk menerima. Bagi yang belum berhasil, coba baca dua trik di bawah ini.
6.       Terkadang nekat itu perlu
Bagi akhowat yang sudah sekian tahun lamanya berjuang tetapi belum membuahkan hasil berupa keridhoan orang tua dan untuk akhowat yang berpikir, “Harus sampai kapan begini terus. Kalau bukan sekarang kapan lagi toh pada akhirnya aku akan memakainya juga”, trik ini tidak ada salahnya untuk dicoba. Namun, ini hanya boleh dipraktikkan oleh akhowat yang benar-benar tegar dan tahan banting. Ia harus memegang erat pendiriannya dan harus siap dengan segala konsekuensi dari pilihannya tersebut.
Lantas nekat yang bagaimana yang dimaksud? Saya contohkan begini: Misalnya engkau adalah seorang akhowat yang kuliah di luar kota sehingga mengharuskan safar dan ngekost, jarang pulang, tinggal jauh dari orang tua. Dengan demikian, orang tua tidak tahu apa saja yang dilakukan olehmu termasuk dalam hal penampilan. Apabila setelah mengenal salaf engkau memutuskan untuk bercadar tetapi ditentang orang tua, sebenarnya itu wajar terjadi pada keluarga yang masih awwam. Sejak engkau memutuskan untuk memilih mengikuti sunnah pasti akan banyak konflik dari keluarga yang belum paham. Namun, tidak masalah engkau bercadar di sana karena orang tuamu pun tidak tahu jika tidak ada yang bercerita, kecuali jika engkau ngekost bareng saudaramu, maka engkau harus bersabar atau pintar-pintarnya kongkalikong dengan saudaramu itu. Hitungan dua tiga tahun belum tentu cukup untuk merubah pendirian mereka tergantung bagaimana cara kita mendekati mereka dan karakter mereka sendiri seperti apa.
Dari beberapa kasus yang saya temui, terkadang orang tua yang masih awwam malah mudah untuk menerima kebenaran sedangkan orang tua yang paham agama misalnya ia seorang guru agama atau tokoh masyarakat ia sulit sekali untuk menerima karena pertimbangan buruknya pandangan warga terhadapnya, malu dengan kolega-koleganya, dan sebagainya. Namun, orang tua yang punya pengaruh dalam masyarakat ini jika kita sudah berhasil mengambil hatinya, maka semua akan terasa mudah. Orang lain tidak akan berani mengusik kita bahkan mungkin orang-orang menjadi terbuka matanya dan tertarik dengan apa yang kita amalkan.
     Kembali ke pembahasan trik nekat ini. Jika engkau sudah paham syariat kemudian engkau telah bercadar di daerah safarmu, maka cobalah engkau pulang memakai jilbab yang engkau pakai ke majelis, mungkin awal pertama kali pilih warna selain hitam  agar orang tua tidak begitu shock tetapi tetap harus warna-warna gelap, hanya saja cadarnya engkau ganti dengan slayer yang engkau buka ketika sudah sampai di depan rumah. Setiap engkau pulang panjangkan jilbabmu secara periodik dan coba dengan warna hitam. Pelan tapi pasti. Amati sikap orang tua adakah pertentangan atau tidak. Lanjutkan terus hingga engkau nyaman dengan panjang jilbabmu yang sekarang. Puncaknya adalah engkau merayu dengan kalimat yang halus agar diperbolehkan memakai cadar atau engkau berkata jujur bahwa selama ini di daerah safar telah memakai cadar. Namun, jika engkau sudah sekian tahun meminta izin untuk memakai cadar tetapi belum juga diizinkan, maka cobalah nekat pulang memakai cadar. Engkau akan beruntung jika di jalan bertemu dengan tetanggamu atau kebetulan di rumahmu sedang ada tetanggamu yang main atau kebetulan ada kerabat laki-laki yang bukan mahram sedang di rumahmu. Jangan kau lepas cadar itu ketika di rumah. Dengan begitu, karena sudah ada warga yang tahu maka mau tidak mau orang tua pasti tidak enak melarangmu memakai cadar lagi. Apa kata tetangga nanti, mungkin begitu pikiran orang tua.
Namun bagi yang qoddarolloh orang tuamu masih juga melarang, bahkan karena itu engkau tidak dibolehkan keluar rumah, maka cari kesempatan ketika mereka sedang tidak ada di rumah. Ketika engkau mendapati mereka pergi, itulah kesempatanmu. Coba engkau keluar rumah misalnya menyapu halaman, membersihkan pekarangan, mengantar belanja saudaramu, atau aktivitas di luar lainnya, tentu dalam keadaan engkau memakai cadar. Sapa tetangga yang lewat di depan rumahmu. Dengan begitu pikiran buruk orang-orang terhadap perempuan bercadar insya Allah akan luntur. Masyarakat tidak akan berbicara buruk perihal engkau malah mungkin akan membicarakan kebaikan-kebaikanmu.
Nanti jika Allah menghendaki orang tuamu mengetahui hal ini dari tetanggamu, engkau harus siap dengan segala konsekuensi yang akan terjadi. Serahkan semua kepada Sang Pengatur, minta pertolongan kepada Allah agar dimudahkan urusanmu. Berdoalah semoga Allah meluluhkan hati orang tuamu. Tetap tunjukkan akhlaq yang baik. Insyaa Allah ini tidak sengeri yang engkau bayangkan. Tidak perlu dipikir berat-berat apabila terdengar cibiran dari masyarakat tentangmu.  Apapun musibah yang Allah timpakan kepadamu itu tidak seberapa dibandingkan nikmatnya engkau berada di atas hidayah, tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan keselamatan agamamu. Berdo’alah semoga Allah memberikan kemudahan bagi kita untuk mengerjakan amal shalih. Sesungguh-Nya Allah Maha Mengabulkan do’a hamba-Nya. Nanti bisa jadi engkau akan berkata di dalam hati, “Mengapa tidak dari dulu saja aku pakai di sini,” (hehe). 
Luruskan niat semata-mata hanya mengharap wajah Allah. Seseorang akan mendapatkan apa yang dia niatkan. Dalam hal ini saya tidak bermaksud mengajarkan seorang anak membangkang pada orang tua. Seorang anak yang berkeyakinan bahwa menutup wajah wajib bagi wanita sehingga ia tetap bersikukuh pada pendiriannya untuk memakai cadar walaupun dilarang oleh orang tuanya insyaa Allah ia tidak berdosa karena tidak ada ketaatan pada makhluq dalam bermaksiat kepada Allah. Namun saya ingatkan lagi, engkau lebih tahu kadar dirimu. Engkau pun lebih tahu kondisi orang tuamu dan lingkungan desamu. Pikirkan matang-matang setiap gerak-gerikmu. Keberhasilanmu tergantung pada usahamu dan semata-mata atas pertolongan Allah. Semoga ini bisa menjadi penyemangat bagi kalian ya akhowati fillah.
7.       Segeralah menikah
Ini merupakan jalan keluar terakhir dan jurus pamungkas bagi seorang akhowat yang berada dalam kondisi tidak nyaman seperti ini. Biasanya orang tua yang awam khawatir jika memiliki anak yang bercadar tapi masih gadis karena mereka tidak tahu atau tidak punya kenalan ikhwah salafy sehingga bingung nanti anaknya menikah dengan siapa, ada yang mau atau tidak, hehe. Bukan berarti dengan menikah maka masalah akan selesai, tidak. Akan tetapi, insya Allah orang tua tidak lagi mengusik pendirianmu karena sudah ada imam yang engkau harus taat kepadanya, kalau pun masih ya setidaknya berkurang. Apalagi jika suamimu merupakan orang yang supel, mudah bergaul, tutur katanya sopan, maka dia bisa mendukungmu untuk meraih ridho orang tua. Berdasarkan cerita para ummahat orang tua akan lebih luluh hatinya jika nanti engkau mendapatkan buah hati. Ada baiknya engkau tinggal terpisah dengan orang tua jika sudah ada saudara lain yang mengurus orang tuamu.
Maka segera menikahlah untuk menyelamatkan agamamu. Namun, sekali lagi saya tekankan ini solusi terakhir apabila segala jurus rayu-merayu orang tua belum juga membuahkan hasil. Jika engkau bisa berhijab sebelum menikah, itu masyaAllah. Jadi suamimu tidak akan dituduh atau disalahkan misalnya jika ada yang bertanya, “Si A sekarang bercadar ya?”, kemudian ada yang menjawab, “Iya, soalnya dia menikah sama laki-laki jenggotan, celananya cingkrang.” Kesannya engkau bercadar karena disuruh oleh suamimu. Namun, sekali lagi masing-masing lebih tahu kadar dirinya. Bertaqwalah semampumu. Jika memang baru bisa memakai cadar setelah menikah, maka apa peduli kata orang. Yang lebih tahu tentangmu adalah Allah dan engkau sendiri. Ketika sudah menikah, tetap jaga tali silaturahim, sesekali berkunjunglah ke rumah kerabat-kerabat dekat untuk bertegur sapa. Hapus image bahwa salafy tidak mau berbaur dengan sanak saudara. Selama tidak ada pelanggaran syariat (maksudnya tidak ada ikhtilat, usahakan yang wanita menemui wanita dan yang pria menemui pria saja), maka tidak mengapa.
Wallahu a’lam, semoga trik di atas bisa menjadi motivasi bagi akhowat pejuang hijab syar’i. Jika engkau sudah berhasil menyempurnakan hijabmu, bertekadlah dengan azzam yang kuat bahwa jangan sekali-kali engkau membukanya ketika di depan ajnabi (laki-laki bukan mahram).  Pertahankan apa yang sudah susah payah engkau perjuangkan itu. Luruskan niat semata-mata untuk mengharap wajah Allah dan berdoalah kepada Allah agar senantiasa diistiqomahkan hingga nyawa sampai di kerongkongan.

read more - Trik Mencuri Hati Orang Tua (Untuk Para Akhowat yang Bertekad Akan Bercadar)