Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Ahlan wa sahlan di dunia 'Baru Belajar'
love

Wednesday, December 28, 2011

Pentingnya Pendidikan Anak Sejak Dini



Bismillah,
 

 "Apa tujuan Allah menciptakan manusia?”

Seorang anak perempuan kelas 3 (Aisyah, 8 tahun) mengacungkan tangan kemudian menjawab, “Manusia diciptakan untuk beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan suatu apapun.”
“Apa dalilnya?”
Anak yang sama (Aisyah) menjawab: (melafadzkan QS Adz Dzaariyat: 56)

Begitu pula ketika diajukan pertanyaan yang lain antara lain: dalil kewajiban manusia di bumi, dalil tauhid rububiyah Allah, adab dalam majelis, adab makan, adab tidur, pembatal-pembatal wudhu, pembatal shalat, dll. Aisyah dan teman-temannya (Icha, Zalfa, Sabila, Nasmah, Asma’, Rahil, Hasanah, Zahroh, dll) bisa menjawabnya walaupun dengan agak malu-malu. 
 
Pada hari yang lain ketika tengah mengerjakan soal-soal di kelas, salah satu di antara mereka berkata, “Minta tolong saja ke .... (qaddarallah, saya tidak begitu jelas menangkap apa yang dikatakan), tetapi kemudian anak satunya menimpali, “Gak boleh, itu kan syirik kepada Allah.” Masyaa Allah, anak sekecil itu saja tahu kalau meminta pertolongan, maka mintalah kepada Allah.

Jika diperhatikan lebih jauh, sungguh begitu baik akhlaq mereka. Seorang anak perempuan kelas TA banat (berumur sekitar 4-5 tahun) menuangkan air minum dari dispenser kemudian tidak lupa untuk terlebih dahulu duduk sebelum meminumnya. Padahal tidak jarang bahkan banyak kaum dewasa di sekeliling kita (atau mungkin kita sendiri?) yang minum atau makan sambil berdiri bahkan mungkin sambil berjalan. Bahkan berbagai acara ada yang sengaja didesain dalam bentuk standing party sehingga tamu yang hadir makan dan minum dalam posisi berdiri. Allahul musta’an.

Ada yang patut direnungkan lagi bahwa ketika anak-anak putri itu (banat) berada dalam keadaan tidak berjilbab (saat mereka sudah gerah di dalam kelas lalu keluar ke aula), jika kemudian ada anak-anak putra (banin) yang lewat (karena TA banin masih dipegang pengajar putri), mereka pasti akan teriak, “Awas, ada banin!” (kemudian segera mengenakan jilbabnya lagi, atau masuk ke dalam kelas dan mengunci pintu). Padahal banin tersebut masih berumur 4-5 tahun (‘Abid, Muhammad, Ghotfan, Zulfikar, Yahya, Ahmad, dan siswa kelas TA banin yang lain), he. Nah, anak sekecil itu saja sudah punya rasa malu dan tahu kewajiban menutup aurat di hadapan yang bukan mahram sedangkan kaum wanita sekarang ini banyak yang mengumbar auratnya entah karena belum sampai padanya ‘ilmu atau acuh terhadap syariat agama ini. Wal iyya dzubillah.

Bukan itu saja, mereka (banat) yang berumur 7-8 tahun-an sudah hafal 3 juz (juz 28-30) sedangkan untuk banin dengan umur yang sama sudah harus menghafalkan juz 26-30. Ketika menyimak mereka setoran hafalan, masyaa Allah, menambah semangat. Jangan mau kalah dengan anak kecil (he, maksudnya tidak ada kata terlambat bagi yang sudah dewasa/pemuda untuk mulai menambah hafalan Al Qur’an mulai dari sekarang, begitu pun bagi orang tua. Umur bukanlah alasan untuk bermalas-malasan mempelajari Al Qur’an atau menghafalnya.)

Walaupun terkadang di antara mereka (anak-anak itu) ada yang bandel jika disuruh tidur siang, tidak mau makan, dan hampir setiap hari ada saja yang menangis dengan berbagai sebab, misalnya berebut mainan, tidak akur dengan temannya, dsb, tetapi namanya juga anak kecil, he.

Begitulah sedikit gambaran anak-anak yang dididik di bawah naungan sunnah, anak-anak Ibnu Taimiyyah, Sedan, Yogyakarta. Alangkah bahagianya mempunyai anak-anak shalih dan shalihah. Pendidikan anak dimulai dari dalam setiap rumah dan secara khusus merupakan kewajiban kedua orang tua. Orang tua adalah madrasah pertama yang akan menentukan baik-buruknya sang anak, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nashrani, atau Majusi.” (HR. Bukhari no 4775 dan Muslim no 2658, dan yang selain keduanya)
Oleh karena itu, wajib bagi kedua orang tua untuk mendidik anak-anaknya dengan pendidikan Islami dan mengajarkan tentang perkara agama.
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka. (QS. At Tahriim: 6)
Ajarkanlah anakmu aqidah yang benar, yang bersih dari bid’ah dan khurafat. Ajarkanlah anakmu tentang iman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan takdir yang baik ataupun yang buruk. Ajarkanlah Al Qur’an dan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, ajarkanlah shalat ketika mereka berumur 7 tahun, ajarkan kepada mereka akhlaq yang baik, bimbinglah anak-anakmu kepada ‘ilmu syar’i yang merupakan seutama-utama perkara yang dapat membantumu untuk mendidiknya dengan tarbiyah islmiyah yang shahih.1
Seorang anak kecil akan lebih mudah menangkap pelajaran yang diberikan, lebih mudah menghafalkan, dan daya serapnya tinggi. Oleh karena itu, pendidikan anak perlu diberikan semenjak dini untuk membentuk pribadi anak yang baik. Ajarkan akhlaq yang mulia kepada anak, lebih utama adalah dengan memberikan teladan di hadapan mereka karena anak suka meniru perilaku orang atau hal-hal di sekitarnya. 
 
Jika kedua orang tua tidak memiliki kemampuan untuk memberikan pendidikan secara intensif kepada anak-anaknya, maka bisa dengan menitipkan ke pengajar khusus misalnya di ma’had atau sekolah islam. Namun, tidak serta-merta berlepas diri dengan pendidikan anak di dalam rumah karena anak merupakan tanggung jawab orang tua. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. (Muttafaqun ‘alaih)

Alangkah bahagianya orang yang meninggalkan anak yang shalih karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Bila anak Adam telah meninggal dunia, terputuslah amalannya kecuali salah satu dari tiga perkara: sedekah jariyah, ‘ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang mendo’akan kedua orang tuanya.” (HR. Muslim no 1631, shahih)
Oleh karena itu, wahai calon orang tua atau calon pengajar/pendidik, perbaikilah dirimu dahulu sebelum segala sesuatu, kebaikan di sisi anak-anakmu adalah apa yang engkau perbuat, dan kejelekan di sisi anak-anakmu adalah apa yang engkau tinggalkan. Baiknya perangai seorang pendidik dan orang tua di hadapan anak-anak merupakan pendidikan yang paling utama bagi mereka.2

1 dikutip dari buku Hukum Khusus Seputar Anak dalam Sunnah yang Suci, penulis Salim bin Ali bin Rasyid Asy Syubli Abu Zur’ah dan Muhammad bin Khalifah bin Muhammad Ar Rabah Abu Abdirrahman
2 dikutip dari buku Mendidik Buah Hati Menuju Generasi Robbani, penulis Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu


read more - Pentingnya Pendidikan Anak Sejak Dini

Monday, December 26, 2011

Haramnya laki-laki menyerupai wanita dan haramnya wanita menyerupai laki-laki

Bismillah,

Dari ‘Abdullah ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu bahwa ia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat para laki-laki yang menyerupai wanita dan para wanita yang menyerupai laki-laki.” (HR. Al Bukhari)
Laknat memiliki dua makna, yakni:
1. bermakna celaan atau cercaan, merupakan laknat dari manusia.
2. diusir dan dijauhkan dari rahmat Allah, merupakan laknat dari Allah.
Peyerupaan (tasyabbuh) seperti ini termasuk ke dalam perbuatan dosa-dosa besar dikarenakan dosa-dosa besar itu bisa dikaitkan dengan beberapa perkara. Ibnu Taimiyyah dalam Majmu Al Fatawa berkata, “Setiap dosa yang pelakunya dicap dengan laknat, atau kemurkaan, atau diancam dengan api neraka, maka itu termasuk dosa-dosa besar.”
Berdasarkan besar kecilnya, dosa dapat dibedakan menjadi dua, yaitu:
1. dosa kecil (ash shaghaair)
Pelaku dosa kecil bisa diampunkan tanpa bertaubat yaitu dengan melakukan perbuatan baik. “Sesungguhnya perbuatan baik bisa menghilangkan/menghapuskan perbuatan-perbuatan jelek.”
“Dan iringilah kejelekan itu dengan kebaikan karena kebaikan itu bisa menghapus kejelekan.” Kejelekan yang dimaksud di sini adalah dosa-dosa kecil.
2. dosa besar (al kabaair)
Pelaku dosa-dosa besar harus bertaubat agar diampuni dosa-dosanya oleh Allah.
Adapun persyaratan at taubah ada tiga, yaitu:
1. ia meninggalkan dosa tersebut
2. ia menyesal terhadap apa yang telah dilakukan
3. ia bertekad untuk tidak terjerumus ke dalam perbuatan dosa tersebut
Ahlussunnah meyakini bahwa dosa-dosa besar yang tidak mengeluarkan pelakunya dari Islam (yaitu dosa selain syirik), maka di bawah kehendak Allah. Jika Allah berkehendak, maka ia mendapat ampunan Allah tapi jika Allah tidak menghendaki untuk ia diampuni, maka ia akan dimasukkan ke dalam neraka meskipun tidak kekal di dalamnya.

Perbuatan laki-laki menyerupai wanita dan wanita menyerupai laki-laki termasuk dosa-dosa besar sehingga pelakunya harus bertaubat agar mendapat ampunan dari Allah. Penyerupaan yang diharamkan ini meliputi penyerupaan dalam gerak-gerik, pakaian, ataupun suara, serta kekhususan dalam laki-laki. Walaupun wanita meniru suara laki-laki untuk membuat orang tertawa atau untuk menakut-nakuti, maka hukumnya tetap haram, bahkan dalam membaca Al Qur’an tidak boleh mengikuti suara laki-laki.
Apabila seorang wanita meniru suara laki-laki dengan tujuan menakut-nakuti orang lain, maka dosanya lebih besar daripada jika tujuannya untuk membuat orang tertawa karena ia mendapat dua dosa, yaitu dosa tasyabbuh (menyerupai) dan tarwi’ (menakut-nakuti orang lain). Tasyabbuh sudah jelas diharamkan dan tarwi’ juga diharamkan karena segala bentuk perbuatan menakut-nakuti seorang muslim, maka tidak diperbolehkan. “Tidak halal seorang muslim menakut-nakuti seorang muslim yang lain.”

Berkata Ath Thabari dalam Al Fath dalam mensyarh hadist haramnya laki-laki untuk menyerupai wanita dan wanita untuk menyerupai laki-laki. Makna hadist tersebut adalah tidak boleh laki-laki untuk men-tasyabbuh seperti wanita baik pakaian maupun perhiasan-perhiasan yang biasa dipakai wanita., misalnya anting-anting, dsb. Termasuk pula dalam suara dan gaya berjalan.
Adapun bentuk pakaian itu berbeda sesuai dengan 'urf atau kebiasaan masyarakat setempat. Bisa jadi adat berpakaian suatu negeri berbeda dengan adat negeri lain. Barangkali ada suatu kaum yang tidak membedakan antara pakaian laki-laki dan perempuan, yang membedakan hanya adanya penutup wajah (hijab).
Adapun tasyabbuh dalam suara/ucapan dan gaya berjalan diharamkan jika dilakukan dengan sengaja. Namun, jika asal penciptaannya sudah seperti itu, maka ia diperintahkan untuk meninggalkannya dan tidak membiasakan untuk seperti itu. Tentunya hal ini bisa dilakukan secara bertahap. Jika ia tidak berusaha, maka ia akan masuk dalam yang dicela, terlebih jika ia ridho dengan kekurangannya tersebut.

Wallahu ta’ala a’lam bish shawwab.

*petikan penjelasan Kitab Nasihatiy linnisa karya Ummu ‘Abdillah Al Wadi’iyyah oleh Al Ustadz Abu ‘Umar Ibrahim hafidzahullah



read more - Haramnya laki-laki menyerupai wanita dan haramnya wanita menyerupai laki-laki

Tuesday, November 22, 2011

Kisah Para Selebriti Langit

Bismillaah,
Kita harus merasa malu dan juga kecewa jika kita tidak mengenal sosok-sosok yang suka merahasiakan amal. Padahal, pada waktu yang sama kita dapat mengenali secara mendetail kisah orang-orang yang punya nama dari kalangan politikus, artis, pemimpin, tokoh sastra, seni dan lainnya.

Orang-orang yang terpilih yang memiliki keutamaan dalam beramal lebih pantas kita kenal. Sebab, dengan mengenal, mengetahui, dan mengingat kehidupan mereka, hati kita pun menjadi hidup.

Tahukah engkau siapa Julaibib?
Julaibib adalah salah seorang shahabat Nabi yang berwajah buruk, kerdil dan berkulit hitam serta tidak dikenal oleh banyak orang, bahkan beliau merasa kesulitan ketika melamar seorang wanita.

Dari Anas bin Malik, katanya: Nabi pernah meminang seorang wanita Anshar untuk Julaibib –salah seorang sahabat yang berparas buruk. Beliau meminang lewat ayah si wanita, maka katanya: “Tunggulah sebentar, aku ingin minta pendapat dari ibunya”. “Baiklah kalau begitu”, kata Nabi. Maka si lelaki tadi mendatangi istrinya dan menyampaikan hal tersebut. Istrinya pun berkata: “Demi Allah, tidak bisa kalau begitu… apakah Rasulullah tidak mendapati lelaki lain selain Julaibib? Padahal kita telah menolak pinangan Si Fulan dan Fulan?” sementara itu, si gadis yang dimaksud mendengarkan di balik tirai. sang ayah pun akhirnya kembali menemui Rasulullah dan menyampaikan keberatan istrinya. Maka si gadis tadi berkata: “Apakah kalian hendak menolak perintah Rasulullah? Kalaulah beliau telah meridhainya untuk kalian, maka nikahkan saja dia.” Ucapan si gadis seakan menyadarkan kedua orang tuanya, lantas mereka berdua berkata: “Kau benar”, lalu sang syah kembali lagi kepada Rasulullah seraya berkata: “Bila Anda meridhainya, maka kami pun ridha terhadapnya.” “Ya, aku telah meridhainya”, kata beliau. Maka lelaki tadi menikahkannya dengan puterinya.

Tak lama berselang, warga Madinah dikejutkan oleh suatu serangan. Julaibib pun segera menunggangi kudanya dan terjun ke medan perang. Usai peperangan, mereka mendapatkan Julaibib gugur setelah berhasil membunuh sejumlah orang musyrik di sekitarnya. Anas lalu mengisahkan: “Sungguh, aku melihat bahwa janda Si Julaibib termasuk wanita Madinah yang paling banyak dipinang orang.” [HR. Ahmad dengan sanad shahih sesuai syarat Bukhari dan Muslim]

Imam Muslim juga meriwayatkan di dalam Shahihnya, dari Abu Hurairah, dikisahkan bahwa kemudian Julaibib mengikuti suatu peperangan bersama Nabi. Saat ia syahid, Nabi begitu kehilangan. Kehilangan. Sangat kehilangan. Tapi beliau akan mengajarkan sesuatu kepada para shahabatnya. Maka beliau bertanya-tanya di akhir pertempuran, “Apakah kalian kehilangan seseorang?”

Para shahabat menjawab, “Fulan, Fulan dan Fulan.”

Para shahabat menyebutkan sejumlah nama. Namun Julaibib tidak termasuk dalam yang mereka sebutkan. Sepertinya Julaibib memang tak beda antara ada dan tiadanya di kalangan mereka.

Nabi bertanya lagi, “Apakah kalian kehilangan seseorang?”

Shahabat kembali menjawab, “Ya. Fulan, Fulan dan Fulan.”

Lagi-lagi beliau bertanya, “Apakah kalian kehilangan seseorang?”

Dan selalu shahabat menjawab, “Ya. Fulan, Fulan dan Fulan.”

Kemudian Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda dengan menghela nafasnya, “Tetapi aku kehilangan Julaibib. Carilah dia!”

Akhirnya, mereka berhasil menemukannya. Julaibib yang mulia. Terbunuh dengan luka-luka, semua dari arah muka. Di sekitar jasadnya menggeletak tujuh jasad musuh yang telah ia bunuh terlebih dahulu. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Ia telah membunuh tujuh orang sebelum akhirnya mereka membunuhnya.”

Beliau dengan tangannya sendiri mengkafaninya. Beliau menshalatkannya secara pribadi. Dan kalimat beliau untuk Julaibib yang akan membuat iri semua makhluk hingga hari berbangkit adalah,

“Ya Allah, dia adalah bagian dari diriku dan aku adalah bagian dari dirinya.”

Abu Hurairah menuturkan, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam lalu meletakkan jasadnya di atas kedua lengan beliau, sementara lengan Julaibib tinggal satu. Beliau kemudian menggali kubur, meletakkan jasadnya di dalam kubur, dan tidak pernah menyinggung untuk memandikannya.

Di dalam hadits ini terkandung anjuran untuk mengenali orang-orang yang shalih semacam ini, yang suka merahasiakan amalnya. 

Alangkah indahnya. Tidak dikenal oleh penduduk bumi, tapi dikenal oleh penduduk langit.

Tahukah engkau siapa Hudair?

Dari Nafi’, dari Ibnu Umar, ”Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengirim satu pasukan yang di antara mereka ada seseorang yang dipanggil Hudair. Sementara tahun itu merupakan merupakan tahun paceklik dan kekurangan makanan, Rasulullahshalallahu ‘alaihi wasallam memberikan bekal kepada mereka semua, namun beliau lupa memberikan bekal kepada Hudair. Maka Hudair tetap berangkat dengan sabar dan mengharapkan ridha Alloh. Dia berada di barisan paling belakang sambil tiada henti mengucapkan ’laa ilaaha illallaah wallaahu akbar walhamdu lillaahi wa subhaanallaah wa laa haula wa laa quwwata illa billaah.’ Dia berkata, ’Sebaik-baik bekal adalah dzikir ini, wahai Rabbi.’ Dia tiada henti mengucapkannya.”

Ibnu Umar menuturkan, ”Lalu Jibril mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata kepada beliau, ’Sesungguhnya Rabb-ku mengutusku kepadamu untuk mengabarkan kepadamu, bahwa engkau telah memberikan bekal kepada rekan-rekanmu, sementara engkau lupa memberikan bekal kepada Hudair. Dia berada di barisan paling belakang sambil mengucapkan ’laa ilaaha illallaah wallaahu akbar walhamdu lillaahi wa subhaanallaah wa laa haula wa laa quwwata illa billaah.’ Dia juga berkata ’Sebaik-baik bekal adalah dzikir ini, wahai Rabbi.’ Jibril berkata lagi, ’Perkataannya itu merupakan cahaya baginya pada hari kiamat, yang ada di antara langit dan bumi. Maka kirimlah bekal baginya.’

Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam memanggil seseorang dan menyuruhnya untuk menyerahkan bekal kepada Hudair dan juga memerintahkan agar dia tetap menjaga perkataannya itu ketika bekal sudah diterima. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada utusan itu agar menyampaikan pesan kepada Hudair, ’Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ’alayhi wa sallam menyampaikan salam kepadamu dan beliau lupa memberikan bekal kepadamu. Pesan beliau, ’ Allah Tabaraka wa Ta’ala mengutus Jibril kepadaku, mengingatkan dirimu dan memberitahukan keadaan serta posisimu.’

Hudair menjawab, “Segala puja dan puji bagi Allah serta shalawat atas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” Setelah itu, dia berkata lagi, “Segala puji bagi Allah, Tuhan penguasa alam semesta, karena Allah telah mengingat aku dari atas langit yang ketujuh dan dari atas ‘Arsy-Nya, yang mengasihi rasa lapar dan kelemahan diriku. Ya Rabbi, sebagaimana Engkau tidak melupakan Hudair, maka buatlah Hudair tidak lupa kepada-Mu.”

(Shifatush-Shafwah, 1/743)
Tahukah engkau siapa Ali bin Al Husain?

Ali bin al Husain adalah seorang ulama' dan imam besar, pemimpinnya para ulama' tabi’in. Namun semasa hidupnya dia terkenal bakhil/pelit oleh keluarganya dan masyarakatnya. Keluarganya mengira dia hanya menumpuk dirhamnya saja tanpa pernah menyedekahkannya. Namun tatkala Ali bin al Husain meninggal dunia, maka terbukalah rahasia-rahasia yang ada pada dirinya. 

Rahasia yang pertama, sejak meninggalnya Ali bin al Husain maka seluruh penduduk Madinah yang miskin tidak mendapatkan lagi santunan dari seseorang yang tidak dikenal setiap malamnya yang bisa mencukupi makannya dalam sehari. Mereka berkata, “Kami tidak pernah kehilangan shadaqah yang diberikan secara sembunyi-sembunyi hingga Ali meninggal dunia.”

Rahasia yang kedua adalah, ditemukannya bekas hitam pada pundaknya ketika mereka memandikan jenazahnya. Dari ‘Amr bin Tsabit berkata, ”Tatkala Ali bin Husain meninggal, mereka memandikan jenazahnya lalu mereka melihat bekas hitam pada pundaknya, lalu mereka bertanya: ”Apa ini”, lalu dijawab: ”Beliau selalu memikul berkarung-karung tepung pada malam hari untuk diberikan kepada faqir miskin yang ada di Madinah.” 

Muhammad bin Ishaq menuturkan, “Penduduk Madinah hidup dengan makanan itu, sementara mereka tidak tahu siapa yang telah memberikan makanan itu kepada mereka. Setelah Ali bin al Husain meninggal dunia, maka mereka tidak lagi mendapatkan makanan pada malam hari.”

Lihatlah bagaimana Ali bin al Husain menyembunyikan amalannya hingga penduduk Madinah tidak ada yang tahu, mereka baru tahu tatkala beliau meninggal karena sedekah yang biasanya mereka terima di malam hari berhenti, dan mereka juga menemukan tanda hitam di pundak beliau. Bahkan beliau dituduh oleh manusia sebagai orang yang bakhil, namun di mata Allah, beliau memiliki banyak rahasia antara dirinya dengan Rabb-nya. Subhanallah…!

Ali bin al Husain pernah berkata, “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu agar Engkau tidak memperindah penampilanku pada apa yang tampak mata, dan membuat buruk rahasiaku pada apa yang tampak mata.”

Dan beliau juga berkata, ”Sesungguhnya sedekah dengan tersembunyi memadamkan kemarahan Allah.”

Ini merupakan hadits yang marfu’ dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, yang diriwayatkan dari banyak sahabat, seperti Abdullah bin Ja’far, Abu Sa’id Al-Khudri, Ibnu “Abbas, Ibnu Mas’ud, Ummu Salamah, Abu Umamah, Mu’awiyah bin Haidah, dan Anas bin Malik radhiyallahu 'anhum. Berkata Syaikh Al-Albani: ”Kesimpulannya hadits ini dengan jalannya yang banyak serta syawahidnya adalah hadits yang shahih, tidak diragukan lagi. Bahkan termasuk hadits mutawatir menurut sebagian ahli hadits muta’akhirin.” (As-Shohihah 4/539, hadits no. 1908).

Mengenai kisah ini bisa dilihat di kitab Siyar A’lam an Nubala, jilid 4 hal.393.Sifatus Sofwah (2/96), dan Aina Nahnu halaman 9.

”Jadilah kalian yang dikenali para penghuni langit namun kalian tidak dikenal para penghuni bumi.” (Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu’anhu dari Ibrahim bin Isa, Shifatush-Shafwah, 1/415)

Banyak orang yang dilupakan manusia, namun Allah subhanahu wa Ta’ala tidak melupakannya. Ini dikarenakan keikhlasan orang-orang seperti itu, yang banyak menyebut Allah secara sembunyi-sembunyi, jauh dari pandangan manusia.

Itulah beberapa kisah tentang orang-orang shalih yang senang menyembunyikan amalan mereka. Mereka adalah orang-orang yang asing di bumi, namun nama-nama mereka sangat terkenal oleh para penduduk langit. Mereka memiliki banyak rahasia yang hanya diketahui oleh Allah dan diri mereka sendiri.

Imam al Hasan al Bashri berkata, “Adakalanya seseorang sudah hafal Al Qur’an, sementara tetangganya tidak mengetahuinya. Adakalanya seseorang memiliki banyak pengetahuan, namun orang-orang tidak merasakannya. Adakalanya seseorang mendirikan shalat yang panjang, sementara di rumahnya ada beberapa orang tamu dan mereka tidak mengetahuinya. Kita mengenal beberapa orang yang melakukan amal shalih secara sembunyi-sembunyi selagi di dunia, namun kemudian pengaruh amalnya itu selalu tampak sepeninggalnya…” (Al Akhfiya’ al Manhaj wa as Suluk, oleh Walid ibn Sa’id Bahakam).
Sumber: note fb teman (Mbak Aisy)
read more - Kisah Para Selebriti Langit

Thursday, November 10, 2011

Petikan Nasihat

Bismillah,

Berikut merupakan petikan nasihat ....

Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa kepada Allah. Allah tidak melihat rupa kalian, harta kalian, melainkan amalan, hati, keihklasan, ibadah, dan i’tiba kalian kepada Rasul. Orang yang paling baik amalannya adalah yang ikhlas dan mengikuti tuntunan Rasul. Orang faqir yang bertaqwa lebih tinggi kedudukannya daripada orang kaya yang kafir. Laki-laki lebih tinggi kedudukannya dibandingkan wanita, laki-laki memiliki satu tingkatan yang lebih tinggi tetapi tidak berlaku pada laki-laki yang tidak bertopang/ tidak menjalankan shalat dan beramal baik.  Jagalah diri-diri kalian dan keluarga-keluarga kalian (istri dan anak-anak kalian) dari api neraka. Ta’awun antara suami dan istri dalam mendidik anak. Ajarkanlah perkara-perkara agama kepada anak sesuai dengan tingkatan umurnya, tingkat pemahamannya. (Nasihatiy linnisa, Al Ustadz Abu ‘Umar Ibrahim, 28 Juni 2009)

Sepandai apapun engkau, masih ada hal yang belum diketahui. Jika dibandingkan ilmu-ilmu yang belum dipelajari jauh lebih banyak dibandingkan yag sudah dipelajari sehingga sering orang jatuh pada kekeliruan dan kesalahan karena kurangnya ilmu. Bertanyalah pada ahludzikr tentang apa yang tidak diketahui agar tidak jatuh pada kekeliruan. Kurangnya ilmu yang dimiliki membuat diri seseorang sombong dan menganggap apa-apa yang ada padanya adalah al haq/benar padahal belum tentu, disebabkan kurangnya ilmu. (Al Ustadz Abu ‘Umar ‘Ubadah, 2 Juli 2009)

Ketika engkau berusaha untuk menjalankan As Sunnah, maka tinggalkan semua yang membuat ragu, tinggalkan godaan syaithan yang membisikkan bahwa kamu belum mampu, jangan ikuti hawa nafsu, jangan timbang-timbang dengan perasaanmu. Sesungguhnya agama ini tidak dibangun oleh hawa nafsu (perasaan). (Nasihatiy linnisa, Al Ustadz Abu ‘Umar Ibrahim, 15 Maret 2010)

Segala ketetapan Allah atas hamba-Nya adalah baik dan membawa kebaikan. Semua perbuatan Allah pasti mengandung hikmah yang kita mengetahuinya dan terkadang pula kita tidak mengetahui hikmahnya. Apapun musibah yang Allah timpakan kepadamu itu tidak seberapa dibandingkan nikmatnya engkau berada di atas hidayah, tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan keselamatan agamamu. Berdo’alah semoga Allah memberikan kemudahan bagi kita untuk mengerjakan amal shalih. Sesungguh-Nya Allah Maha Mengabulkan do’a hamba-Nya. (Nasihatiy linnisa, Al Ustadz Abu ‘Umar Ibrahim, 10 Oktober 2011)

Orang Yahudi dan Nashara sangat khusyu’ dalam beribadah. Mengapa mereka dapat beribadah dengan tenang? Karena sudah tidak perlu lagi syaithan menggoda mereka karena sudah jelas-jelas kafir. Namun, bukanlah ketenangan dalam beribadah yang menjadi tolok ukur kebenaran, bukan pula banyak pengikut, dan bukan pula perasaan. Akan tetapi yang menjadi tolok ukur adalah Al Qur’an dan As Sunnah, maka jangan kamu palingkan kedua matamu sedikitpun dari orang-orang shalih yang menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar karena berharap keindahan kehidupan dunia. Jangan tajamkan pandanganmu terhadap mereka-mereka yang mendapatkan bunga-bunga kehidupan dunia. Adapun bunga-bunga itu tidak akan bertahan lama, begitu juga kehidupan dunia yang indah-indah. Semua itu akan sirna dan hanya untuk menguji manusia sedangkan rezeki Allah lebih baik dan kehidupan akhirat lebih kekal. Kenikmatan-kenikmatan dunia itu tidak seberapa dibandingkan dengan kenikmatan-kenikmatan di surga yang mana kita tidak bisa membayangkannya. Sebagaimana kisah Ahmad bin Hanbal yang ketika itu mendapat ujian yang sangat berat yaitu dipenjara, dicambuk, dll. Ketika berganti khalifah, beliau mendapatkan kemuliaan yang diberikan oleh khalifah yang baru tetapi beliau menolaknya. Beliau berkata, “Sungguh aku mendapatkan ujian yang lebih besar dari ujian yang aku terima dahulu.” Yaitu dunia dengan segala kelezatannya karena orang yang diuji dengan dunia, dia tidak menyadarinya. (Kitab Riyadhus Shalihin, Al Ustadz Hamzah Abu Firos, 24 Juni 2010)

Amalan sunnah (mustahab) jika bertabrakan dengan suatu kewajiban, maka utamakan kewajibannya. (seperti kisah Juraij dan ibunya) (Kitab Riyadhus Shalihin, Al Ustadz Hamzah Abu Firos, 24 Juni 2010) 

read more - Petikan Nasihat

Tuesday, November 8, 2011

Mari Memasak Daging Kurban

Bismillah,

Hari Raya ‘Idul Adha telah berlalu. Adakah yang masih menyimpan daging kurban? Ayo segera dimasak karena daging mudah sekali rusak jika penyimpanannya tidak benar. Tidak perlu bingung mau dimasak apa, daging sapi bisa dimasak menjadi rendang, rica-rica, lemaknya untuk soto, sop, dll. Daging kambing mau dibuat tongseng atau sate juga nikmat. Nah, bagi kost yang juga mendapat jatah daging kurban, jangan dibiarkan begitu saja, dimasak yang simple-simple aja gak papa. Bumbunya bisa minta bawain teman kost yang kembali dari mudiknya, ^^. Tidak perlu meniru persis seperti yang ada di buku-buku resep, gunakan bahan yang tersedia saja, yang penting komposisi bumbunya sudah terpenuhi. Resep rica-rica di bawah ini mungkin serupa dengan resep rica-rica pada umumnya atau seperti yang biasa dimasak di rumah-rumah, tetapi takaran bumbu-bumbu yang digunakan hanyalah hasil dari mengira-ngira karena tidak berpatokan pada resep rica-rica siapapun. Walaupun begitu, rasanya jangan diragukan, -p.
Bahan:
± 500 gram daging sapi/ daging kambing (satu baskom ukuran sedang)
Bumbu:
8 siung bawang merah
8 siung bawang putih
11 buah cabe rawit
1 ruas jahe
2 ruas kunyit
2 ruas lengkuas

2 batang sereh
1 butir kemiri
1 buah tomat
Merica, ketumbar, garam secukupnya
Cara membuat:
Semua bumbu diuleg hingga halus. Jika ada, sertakan pula 2 lembar daun jeruk. Panaskan minyak kemudian masukkan bumbu dan tumis hingga harum. Masukkan daging yang telah dibersihkan dan dipotong kecil-kecil. Tambahkan gula pasir, kecap, dan air secukupnya. Masak hingga daging menjadi empuk dan terus tambahkan air sedikit demi sedikit hingga matang. Angkat, sajikan bersama nasi putih hangat dan sambal kecap. Santap bersama teman-teman kost anda.
Gampang kan? Selamat memasak....
Maaf, gambar di atas bukan gambar sebenarnya karena tidak sempat dipotret. -)

read more - Mari Memasak Daging Kurban

Sunday, October 23, 2011

Al Hasanah, Riwayatmu Kini...

Bismillah
~Sedang ingin  mengeluarkan unek-unek~ 

Bermula dari kabar dipindahnya tempat ta’lim yang semula di Masjid Al Hasanah menjadi di TA Ibnu Taimiyyah Sedan, sedih... Bukan semata-mata karena jarak yang jauh, melainkan lebih dari itu karena ta’limnya jadi sering kosong. Kajian hari Sabtu sudah tidak ada, yang hari Ahad pun tidak pasti. Kalaupun ada, tempatnya di Masjid Agung Manunggal Bantul (semakin jauh)...belajar Durushul Lughohnya sepertinya juga tidak diteruskan lagi, adanya di Veteran. Walaupun alhamdulillah ada satu jadwal baru lagi yaitu belajar tajwid hari Ahad siang dan Sabtu pagi. Tapi, minggu ini (23 Oktober 2011) benar-benar kosong. Ta’lim paginya libur dan ustadz yang mengajar tajwid qaddarallah sedang sakit, syafahullah, jadi ta’lim tajwid pun diliburkan.

Dengan berpindahnya tempat ta’lim itu, peserta kajian khususnya yang akhowat menjadi berkurang, tidak sebanyak jika di tempat yang dulu (masjid Al Hasanah), seringnya lebih banyak ummahatnya. Bagaimana lagi, tidak semua punya kendaraan (baca: motor), yang dulu cukup bisa dijangkau dengan sepeda onthel, sekarang butuh tenaga ekstra jika ada yang berniat untuk menjangkaunya dengan sepeda onthel. Kenyataannya mereka menjadi tidak bisa hadir. Yang dulu sering kelihatan, sekarang jadi jarang terlihat. Yang dulu jarang kelihatan, sekarang jadi semakin jarang terlihat.

Dengan jarak yang jauh itu pula, harus memastikan juga benar-benar ada ta’lim atau tidak. Kalau dulu kan dekat, kalau pas tidak tanya, tidak terlalu menjadi masalah kalau sudah sampai di tempat ta’lim tapi ternyata ta’limnya libur, tidak perlu kecewa karena dapat pahala niatnya insyaa Allah. Tapi sekarang jauh,...sebagai tindakan preventif tanya dulu ke ummahat/akhowat yang kira-kira tahu, paling mentok sms ke nomor Pakis. Kan kasihan yang jarak antara tempat tinggal dan tempat ta’limnya jauh banget, misalnya di Bantul, Jakal KM atas, dll. Kalau ada ikhwah yang sedang semangat-semangatnya, tetap berangkat walaupun belum ada kepastian ada atau tidaknya ta’lim, dan sesampainya di sana ternyata kosong, hmm, Allohul musta’an.

Dipikir-pikir, kalau mengusahakan tempat yang lain selain di Sedan, misalnya Masjid Al Fithroh Terban, Masjid Nurul Barokah, masjid-masjid di salah satu fakultas di UGM (gak mungkin ya? he) atau mana gitu, yang dekat lingkungan kampus, tidak bisa ya? Kalau jauh kan kasihan jami’ah ikhtilatiyyah fii kuliyah yang sebagian besar tinggal di sekitar kampus ini dan terutama bagi yang tidak punya kendaraan. Syukur-syukur bisa kembali menempati Masjid Al Hasanah tercinta lagi, aamiin. Sepertinya tempat yang paling strategis adalah Masjid Al Hasanah.

Akhir kalimat, dalam kondisi apapun, ayo tetap semangat mencari ‘ilmu, habiskan bensin motormu untuk menuju tempat ta’lim! Bagi yang punya motor,  akan lebih baik jikalau berbaik hati memboncengkan teman yang tidak punya motor. Semangat! Semanggi! Semangka! ^^ Ihris ‘alaa maa yanfauk wasta’in billah wa laa ta’jaz! Mumpung masih di Jogja (semoga kelak bisa punya rumah di Jogja, hhe).

Ahad, 23 Oktober 2011
read more - Al Hasanah, Riwayatmu Kini...

Saturday, October 22, 2011

Penjelasan Ayat ‘Laa ikrooha fiddiin’

Bismillah

Al Qur’an merupakan petunjuk hidup manusia, kemurniannya akan tetap terjaga hingga hari kiamat nanti. Dapat membaca dan memahami Al Qur’an dalam bahasanya yang asli (bahasa Arab) merupakan keinginan bagi tiap-tiap muslim. Namun, tidak semua orang mempunyai kemampuan dan kesempatan yang sama sehingga keinginan tersebut tidak dapat dicapai oleh setiap umat muslim. Ayat-ayat dalam Al Qur’an ada yang bersifat muhkamaat (terang dan jelas artinya) dan ada pula yang mutasyaabihaat (kurang terang dan kurang jelas artinya). Oleh karena itu, dalam menafsirkan ayat dalam Al Qur’an, haruslah berpedoman pada pemahaman salafus shalih, tidak boleh serampangan menta’wilkan sesuai akal dan nafsu kita. Sebagai contoh yaitu ayat ke-256 dalam Surat Al Baqarah berikut ini.                                           
256. Tidak ada paksaan dalam agama... (QS. Al Baqarah: 256)
Berkata Syaikh Fauzan: “Bukan berarti kaum kafir dibiarkan begitu saja dan tidak diperangi. Merupakan bentuk kedustaan kepada Allah jika mereka beranggapan manusia bebas beraqidah.” 

Berikut ini merupakan pendapat ulama ahlu tafsir mengenai ayat tersebut:
  1. Ayat tersebut turun dan konteksnya dipahami pada awal-awal Islam turun, yaitu pada saat di Mekah, manusia tidak dipaksa untuk masuk Islam. Setelah Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam diperintahkan untuk hijrah ke Habasyah, Madinah barulah ada paksaan untuk masuk Islam dan memerangi kaum kafir.
  2. Sebagian ahlu tafsir mengatakan bahwa ayat tersebut untuk kaum Yahudi dan Nashrani, yaitu tidak ada paksaan dengan catatan harus membayar upeti (jizyah) yang dipungut oleh pemerintah Islam dan mereka harus tunduk pada hukum Islam. Namun, tetap didakwahi walaupun tidak dipaksa.
  3. Ayat tersebut khusus untuk kaum Yahudi dan Nashrani. Sebagian mereka ada yang masuk Islam tetapi mereka menghalangi keturunan-keturunannya untuk masuk Islam karena ada paksaan (mereka beralasan bahwa mereka dahulu dipaksa untuk masuk Islam. pen) sehingga turunlah ayat tersebut.

Pemikiran bahwa bebas dalam beragama dengan berdalil dengan ayat tersebut adalah salah dan bathil. Penjelasan “tidak ada paksaan dalam agama”  harus dihubungkan dengan ayat-ayat yang lain.
56. dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku. (QS. Adz Dzaariyat: 56)
Dalam QS. Adz Dzaariyat: 56 terdapat hikmah peciptaan jin dan manusia yaitu untuk beribadah hanya kepada Allah. Untuk menjelaskan hikmah tersebut, Allah mengutus Rasul dan Nabi untuk menyeru umat manusia kepada Allah, juga Allah menurunkan kitab-kitab. Allah tidak memerintahkan sesuatu, melarang sesuatu, dan menurunkan syariat kecuali padanya ada hikmah, maslahah, kebaikan, dan tujuan. [1]

Coba kita simak kelanjutan dari ayat dalam QS Al Baqarah: 256.
256. tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut[2] dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. Al Baqarah: 256)

3. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu Jadi agama bagimu. (QS. Al Maidah: 3)

2. Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus makhluk-Nya. (QS. Ali Imran: 2)

36. sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. (QS. An Nisa’: 36)
Kesimpulan:
Kebebasan beragama dan kebebasan berpendapat adalah bathil dan tidak ada dalilnya sama sekali. Jika dipelajari secara seksama, seluruh ayat-ayat Al Qur’an mengandung maksud dorongan untuk masuk kepada agama Islam.
Syaikh Fauzan mengatakan bahwa penjelasan tersebut adalah ahwal mufassirun, walaupun tidak ada rujukan tetapi boleh menyimpulkan dari penjelasan para ulama.
Bertanyalah kepada ahlu dzikr dalam hal-hal yang tidak kamu ketahui. Seseorang walaupun berada di bawah bimbingan ulama, bisa jadi ia secara personal terjatuh dalam kesalahan, apalagi yang tidak terbimbing? Hanya saja kesalahan orang yang berada di bawah bimbingan ulama bisa langsung diketahui oleh para ulama sehingga masih bisa dicegah atau belum terlaksana. 
“Belajarlah dengan giat sebelum disibukkan dengan urusan cabang-cabang”
"Alhamdulillah 'alaa nikmatil islam wa sunnah"
Allohu a’lam

[1] faidah dari Al Ustadz Abdulhaq hafidzahullah, Ahad 12 Desember 2010 di Masjid Alhasanah, Terban, Yogyakarta.
[2] Thaghut ialah syaitan dan apa saja yang disembah selain dari Allah subhanahu wata'ala.

Sumber: Petikan ta’lim bersama Al Ustadz Syafruddin hafidzahullah pada hari Ahad, 4 Juli 2010 di Masjid Alhasanah, Terban, Yogyakarta.
 
read more - Penjelasan Ayat ‘Laa ikrooha fiddiin’

Jadwal Kajian di Kebumen

Bismillaahirrahmaanirrahiim
Berikut ini jadwal ta’lim ahlussunnah di Kebumen.



SENIN
Waktu : Ba'da Dzuhur
Tempat : Ma’had Anwarus Sunnah Petanahan, Kebumen
Pemateri : Ustadz Abdulmu'thi Lc,
Materi : Kisah Para Sahabat
Peserta : Umum, Putra/Putri

SELASA
Waktu : Pukul 16.00-17.00
Tempat : Yayasan Assalaam, Legok, Pejagoan, Kebumen
Pemateri : Ustadz Kholid (dari Ma’had Anwarus Sunnah Petanahan, Kebumen)
Materi :
Peserta : Umum, Putra/Putri

KAMIS
Waktu : Ba'da Dzuhur
Tempat : Ma’had Anwarus Sunnah Petanahan, Kebumen
Pemateri : Ustadz Abdulmu'thi Lc, 
Materi : Prinsip-Prinsip Ahlussunnah
Peserta : Umum, Putra/Putri

JUMAT PEKAN KEDUA DAN KEEMPAT
Waktu : Pukul 16.00-17.00
Tempat  : Yayasan Assalaam, Legok, Pejagoan, Kebumen
Pemateri : Ustadz Abdul Muthi Lc (dari Ma’had Anwarus Sunnah Petanahan, Kebumen)
Materi : Kitab Adabul Mufrod
Peserta : Umum, Putra/Putri

AHAD PEKAN KEDUA DAN KEEMPAT
Waktu : Pukul 13.30- menjelang ashar
Tempat : Yayasan Assalaam, Legok, Pejagoan, Kebumen
Pemateri : Ustadz Syaifudin Zuhri Lc
Materi : Ushulus Tsalatsah
Peserta : Umum, Putra/Putri
Penyelenggara: Yayasan Assalaam Pejegoan Kebumen, telepon (0287) 385413 dan Ma'had Anwarus Sunnah Petanahan, Kebumen.
read more - Jadwal Kajian di Kebumen

Thursday, October 13, 2011

Cerita tentang Bintang


Bismillah

Adakah di antara kalian yang suka memandang langit di malam hari? Tiduran beberapa saat di atas rumput di lapangan terbuka dengan pandangan mengarah ke langit, atau mengintip di balik jendela kamar, ataupun hanya menerawang sekilas melalui bagian atap rumah yang terbuat dari kaca. Atau saat terbangun di malam hari, sebelum mengambil air wudhu terlebih dahulu menengok ke langit. Hanya sekedar ingin tahu ada apa di atas sana. 

1. Demi langit dan yang datang pada malam hari.2. Tahukah kamu apakah yang datang pada malam hari itu? 3. (yaitu) bintang yang cahayanya menembus. (QS. At-Thaariq 1-3)

Bintang-bintang akan nampak paling indah saat tak ada bulan. Kenapa? Karena jika ada bulan, sinar bintang terkalahkan oleh cahaya bulan (terlebih jika purnama) sehingga yang nampak hanya sedikit atau malah kita tidak bisa melihatnya. Meskipun, terkadang mereka terlihat berdua seperti yang terlihat pada setiap pertengahan bulan. Dahulu bintang digunakan manusia untuk menentukan arah yang tidak ia ketahui di darat dan di lautan, pun hingga sekarang. Maha Suci Allah yang telah menciptakan segala sesuatu dengan sebaik-baiknya.

Merupakan kebahagiaan tersendiri ketika melihat ada banyak bintang di gelapnya langit malam. Ada perasaan tenang yang timbul saat memandanginya. Jauh tinggi di sana, tampak bersinar, kerlap-kerlip, subhanallah, indah sekali. Walaupun di langit Jogja bintang yang terlihat tak sebanyak yang bisa dilihat di desa kelahiranku karena tersamarkan oleh terangnya lampu-lampu kota. Namun, ini sudah cukup membuat tersenyum bahagia bagi yang memandangnya. (agaksedikitlebay.com ^^) Apa kalian menganggap ini adalah kebiasaan yang aneh? Tak apa, tetapi sungguh hal ini sangat menyenangkan ^^. Setidaknya bisa dijadikan sebagai renungan betapa indah dan tertatanya alam ini sudah pasti ada yang mencipta dan mengaturnya, yang tidak lain adalah Allah jalla wa’ala (tauhid rububiyyah). 

Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas 'Arsy [1]. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha suci Allah, Tuhan semesta alam. (QS. Al A’raaf: 54)

Nah, setelah kita mengetahui bahwa Allah merupakan Pencipta, Pemilik, Pengatur, dan Dzat yang mewujudkan sesuatu yang sebelumnya tidak ada, serta Allah-lah yang memberi rizki kepada makhluk-Nya, maka sudah sepantasnyalah (baca: wajib) untuk kita beribadah hanya kepada-Nya. Dia-lah satu-satunya Dzat yang berhak diibadahi (tauhid uluhiyyah).[2]
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah sembah matahari maupun bulan, tapi sembahlah Allah yang menciptakannya, jika kalian memang beribadah kepada-Nya. (QS. Fushilat: 37)

[1] Bersemayam di atas 'Arsy ialah satu sifat Allah yang wajib kita imani, sesuai dengan kebesaran Allah dan kesucian-Nya.
[2] “Tashil Al Ushulu Ats Tsalatsah’ yang ditulis oleh As Syaikh Muhammad At Thoyyib Al Anshori, diterjemahkan oleh Ustadz Abu Abdillah Muhammad Rifai ke dalam Bahasa Indonesia “Cara Mudah Memahami Al Ushulu Tsalatsah” penerbit Darul Ilmi, Yogyakarta.
Allohu a‘lam.

read more - Cerita tentang Bintang

Thursday, October 6, 2011

Mewaspadai Para Da'i Penyesat Umat

Dauroh bersama Ustadz Muhammad Afifudin As Sidawiy di Masjid Al Anshor, Wonossalam, Ngaglik, Sleman pada hari Senin, 3 Oktober 2011 membahas Kitab Arba'una Haditsan fii Madzhabis Salaf karya Asy Syaikh 'Ali Al Haadadi rahimahullahu, Bab Berhati-hati dari Da’i-Da’i Penyesat Umat
 
Bismillah 

Berikut ini catatan saya ... 

Termasuk sunnatullah bagi hamba-hamba ini bahwa di muka bumi ini tidak selamanya terjadi kebaikan-kebaikan melainkan terjadi pula kejelekan-kejelekan. Demikian pula ada du’at dholalah dan du’at hidayah. Namun, selamanya ahlulhaq dan ahlulbathil akan berseteru, tidak ada persatuan sampai hari kiamat.  

(Kemudian ustadz membacakan sebuah hadist panjang riwayat Bukhari dan Muslim (Mutafaqqun 'alaihi) dari Hudzaifah ibnul Yaman radhiyallahu 'anhu. Hudzaifah ibnul Yaman radhiyallahu 'anhu merupakan shohibussirr yaitu sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang dipercaya menjaga rahasia Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam terutama dalam hal nama-nama orang munafiqin di Madinah. Beliau dijuluki pula dengan sebutan mutakhosis yaitu sahabat yang spesialis meriwayatkan hadist-hadist tentang fitnah. Dahulu, ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam masih ada, jika ada yang meninggal, para sahabat melihat apakah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mau menyalatkan jenazah tersebut atau tidak. Sepeninggal Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, para sahabat melihat Hudzaifah ibnul Yaman. Jika Hudzaifah ibnul Yaman tidak mau menyalatkan, itu artinya jenazah tersebut tergolong munafiqin.)
Berkata Hudzaifah ibnul Yaman radhiyallahu 'anhu, “Dahulu orang (sahabat) bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tentang perkara-perkara kebaikan sementara aku banyak bertanya perkara kejelekan karena khawatir akan menimpa diriku.”
Jenis manusia ada empat golongan (menurut penjelasan Syaikh Rabi bin Hadi Al Madkhali rahimahullahu), yaitu: 
  1. pihak yang memahami kedua-duanya yaitu seluk beluk kebaikan dan kejahatan. Ini merupakan orang yang paling sempurna 
  2. pihak yang tidak memahami kedua-duanya. Ini merupakan orang yang paling jelek dan rawan penyimpangan. 
  3. pihak yang memahami kebaikan tetapi kurang memahami kejelekan. Orang seperti ini dikhawatirkan membaca syubhat-syubhat tetapi dikira sebagai kebaikan-kebaikan. 
  4. pihak yang mengetahui kejelekan tetapi kurang memahami prinsip-prinsip kebaikan. Orang seperti ini dikhawatirkan kalah perang karena tidak punya prinsip yang kuat sehingga malah termakan syubhat mereka.
...maka aku (Hudzaifah ibnul Yaman) bertanya, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya dulu kami pada masa jahiliyyah*/masa kejelekan (sebelum diutusnya Rasulullah) lalu Allah mendatangkan kepada kami kebaikan ini (yaitu Islam, dakwah tauhid). Yaa Rasulullah, apakah setelah kebaikan ini ada kejelekan?” maka Rasulullah hallallahu 'alaihi wasallam menjawab, “Na’am, ada.”
*(jahiliyyah mutlak mengandung makna takfir, masa-masa kekufuran. Jadi jangan salah mengistilahkan, misalnya engkau berkata, “dulu ketika saya masih jahiliyyah” karena kalimat tersebut mengandung arti bahwa engkau dulu kafir). 

Yang dimaksud kejelekan ini adalah fitnah-fitnah yang terjadi pada masa Utsman bin Affan yaitu pemberontakan penguasa, pemahaman pentakfiran kepada penguasa oleh kaum Khawarij hingga muncul pembunuhan terhadap Utsman bin Affan. Jadi perlu digaris-atasi bahwa kejelekan pertama yang terjadi pasca meninggalnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yaitu pemberontakan penguasa pada akhir pemerintahan Utsman bin Affan.
...kemudian aku (Hudzaifah ibnul Yaman) bertanya lagi, “Apa setelah kejelekan itu ada lagi kebaikan, ya Rasulullah?” Rasulullah pun menjawab, "Ya, tapi ada dakhon (asap tebal).” “Apa itu dakhon, ya Rasulullah?” Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Suatu kaum yang terbimbing bukan dengan bimbinganku. Engkau mengenali mereka tetapi mengingkari mereka."
Kebaikan yang timbul bukanlah kebaikan murni. Dikatakan oleh para ulama bahwa kebaikan yang keruh itu terjadi pada masa khalifah Umar bin Abdul Aziz, sementara dakhonnya adalah penguasa setelah Umar bin Abdul Aziz. Ada juga yang menyebutkan bahwa kebaikan yang dimaksud adalah persatuan negeri ... (‘afwan, ketinggalan nyatetnya karena gerak tanganku kalah cepat dengan ‘ngendikane’ ustadz, he), dan yang dimaksud dakhon adalah dzalimnya penguasa. Allohu a’lam.
...maka Hudzaifah bertanya lagi, “ya Rasulullah, apakah setelah kebaikan yang keruh itu masih ada kejelekan?” “Ada, yaitu da’i yang menyeru ke pintu jahannam, barangsiapa yang mengikutinya maka mereka akan melemparkannya ke neraka jahannam.” “Seperti apa sifat-sifat da’i tersebut ya Rasulullah?” “Da’i tersebut termasuk dari kulit kita sendiri (dari kalangan kaum muslimin), berbicara dengan lisan seperti kita (seperti bahasa kita),” jawab Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.
Syaikh ‘Ali Al Haadadi rahimahullahu menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan da’i penyeru umat ke pintu neraka jahannam.  

Makna pertama adalah semua da’i dholalah dan da’i bid’ah yang menyeru lepada paham-paham sesat. 
  1. Da’i-da’i khawarij yang menanamkan pemahaman takfir untuk memberontak kepada penguasa, menggulingkan kekuasaan entah dengan isu KKN, gaya reformasi, kudeta militer, dsb. 
  2. Da’i Syiah Rafidhah yang sampai menuhankan Ali bin Abi Thalib bertamengkan dengan sikap cinta kepada ahlul bait. 
  3. Da’i Mu’tazilah yang menentang sifat-sifat Allah dan menyakini nama-nama-Nya, da’i Hadadiyah, Sururiyah, (beberapa disebutkan lagi oleh ustadz), atau da’i-da’i 72 sekte yang ada.  
Makna kedua, yang dimaksud dengan da’i penyeru umat ke pintu neraka jahannam adalah orang yang menuntut kepemimpinan, memberontak kepada penguasa dan menginginkan kekuasaan, baik dari kalangan Khawarij maupun selain Khawarij. Baik dari kalangan Khawarij ataupun kalangan elite politik yang mengajak khilafah islamiyyah, mewujudkan daulah islamiyyah, menegakkan hukum syariat di negara-negara yang sudah sah, menggunakan payung partai-partai politik atau organisasi, apapun namanya dan bagaimanapun caranya. Partai politik untuk taholabul mulki (mencari kedudukan). Tidak usah ragu-ragu, berhati-hatilah terhadap mereka. 
Jalan kedua yang dilakukan mereka adalah dengan jalan jihad ekstrim yang menamakan diri sebagai mujahidin dimana mereka berjihad terhadap kafir dzimmi. 

Dari dua makna yang disebutkan ulama di atas, diringkas bahwa da’i di pintu jahannam memiliki kriteri-kriteria sbb: 
  1. pemberontak penguasa yang sah di suatu negara, meliputi pemberontakan fisik/badan atau pemberontakan yang berujung kepada penggulingan kekuasaan. 
  2. tujuan inti mereka adalah untuk mendapatkan kekuasaan dan kepemimpinan. 
  3. adanya al wara wal bara di atas sebuah sekte (pemahaman), cinta yang sempit pada pemahaman pemikiran, hizbiyyah disertai ashobiyyah/fanatisme). Kejelekan pertama dan terakhir adalah dari kaum Khawarij. Mereka akan terus ada sampai hari kiamat nanti.
“...kemudian Hudzaifah ibnul Yaman radhiyallahu 'anhu bertanya lagi, apa yang harus aku lakukan jika aku mendapati hal tersebut, ya Rasulullah?” Maka Rasulullah pun menjawab, “Kamu pegangi penguasa (imam) kaum muslimin dan jama’ah mereka.”
Penjelasan: yang dimaksud dengan pegangi adalah menerapkan as sam’u wattho’at (mendengar dan taat) kepada penguasa dalam hal ma’ruf. Sedangkan terhadap pemberontak, selisihi mereka.
“Bagaimana jika kaum muslimin tidak punya jama’ah dan imam?”, tanya Hudzaifah. “Kalau tidak ada imam, maka jauhilah sekte-sekte tadi walaupun engkau harus menggigit akar pohon sehingga kematian dating menjemputmu dalam keadaan engkau seperti itu. (Mutafaqqun ‘alaihi).
Penjelasan: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tidak menganjurkan untuk mengangkat pemimpin atau mendirikan ormas, tetapi memerintahkan untuk uzlah (mengasingkan diri) walaupun harus menggigit akar pohon hingga mati dan keadaannya masih tetap sama seperti itu. Uzlah sampai mati. 
Uzlah ada dua macam: 
  1. Uzlatul kulliyah : pengasingan diri secara total yaitu meninggalkan/mengungsi ke tempat yang sepi dengan membawa aqidah kita. 
  2. Uzlah juziyyah: pengasingan diri pada sebagian perkara dan tidak pada sebagian yang lain. Hal ini dilakukan ketika dakwah ilallah masih bermanfaat dan amar ma’ruf masih mungkin dilakukan. Caranya yaitu uzlah pada hal-hal menyimpang dari syariat tetapi membaur dengan masyarakat dalam perkara-perkara yang mubah dan syar’i. 
Adakalanya kita harus uzlah dengan berpindah dari tempat itu, atau adakalanya tidak perlu meninggalkan tempat itu tetapi melakukan kegiatan yang berbeda, dan adakalanya kita tidak boleh meninggalkan tempat itu jika berada dalam lingkungan ahlussunnah. 

Faedah dari hadist panjang ini adalah: 

  1. Anjuran untuk banyak bertanya kepada ahlul ‘ilmi baik dalam perkara kebaikan maupun kejelekan.
  2. Bolehnya takhossus bidang kebaikan dan kejelekan, misalnya takhossus aqidah, fiqih, lugoh, dll. 
  3. Kebaikan yang murni hanya ada pada masa Rasulullah, yang selain itu adalah kebaikan-kebaikan yang ada keruhnya.
  4. Adanya syariat untuk memperingatkan umat dari da’i sesat, tahdzir boleh dilakukan walaupun orangnya belum muncul dalam rangka untuk berjaga-jaga, boleh menghajr untuk mengisolasi mereka.
  5. Perintah untuk menghindari da’i-da’i dholalah. 
  6. Prinsip as sam’u wattho’at kepada penguasa dalam hal ma’ruf adalah solusi dari bahaya da’i sesat. 
  7. Kondisi terakhir umat ini semakin lama semakin jelek, hancur, dan mengerikan tidak seperti zaman awal. “Tidaklah kalian temui umat sesudahnya melainkan lebih jelek dari sebelumnya hingga akhir nanti kau menjumpai Allah.” 
  8. Prinsip al baro’atu min ahlul bid’ah wa ahlul hawa’, berlepas diri dari merekan dengan cara tidak bermajlis dengan mereka, tidak mengutip artikel-artikel mereka, tidak mengikuti kajian-kajian mereka, tidak tolong-menolong dalam dakwah dengan mereka, dll. Tinggalkan semua, cukupkan dengan dakwah sunnah. 
  9. Teguh di atas al haq dalam kondisi apapun sampai kita mati, seperti disebutkan dalam hadist tersebut ‘walaupun kamu harus menggigit akar pohon hingga kematian datang’. 
Allohu a’lam.

Sesi Tanya Jawab 

1. Bolehkah seorang istri menghajr suami? 
(Ustadz tertawa membacakan pertanyaan ini, lha wong pembahasan tema seperti ini pun ada yang tanya tentang persoalan suami istri, hehe, tapi tetap dijawab ‘tdk apa-apa sebagai selingan’ kata beliau)
Yang harus dilakukan oleh seorang istri, pertama adalah bersabar, kedua adalah menunaikan hak-hak suami dan memperbaiki akhlaq, ketiga adalah berbicara dari hati ke hati, sampai kepada jika seorang istri merasa telah bahaya bagi agamanya, maka boleh meminta khulu’ (cerai).
2. Apa benar kata seorang da’i bahwa tanda hitam di dahi adalah tanda niat tidak suci dan perlu diwaspadai? 
(Ustadz lagi-lagi tertawa) kemudian menjawab, ringkasnya begini, 
“Niat itu urusan Allah, kualitas ibadah tidak diukur dari itu.” 

3. Apa makna dari menggigit akar pohon? 
Yaitu kondisi sangat mengerikan, atau memang secara maknawi yaitu kondisi tidak ada makanan yang bisa dimakan.
4. Di Indonesia telah berkembang Syi’ah, bagaimana hukum berjama’ah dengan mereka?
Yang berkembang adalah Syi’ah dari Iran, jika memang telah dihukumi kafir secara personal, maka tidak boleh shalat di belakang mereka. Kebanyakan mereka hidup berkumpul dan jarang yang menyendiri, jadi mudah untuk mengenali mereka. Sedangkan jika belum dihukumi kafir, maka hukumnya sama dengan hukum shalat di belakang ahlul bid’ah.
(kemudian ustadz tertawa lagi dan berkata, “Masyaa Allah, pertanyaan-pertanyaannya tajam-tajam sekali ini, dibacakan tidak yaa ikhwah?”-))...akhirnya pertanyaan berikutnya dibacakan. 

5. Bagaimana sikap ahlussunnah jika mendapati penguasanya adalah seorang wanita?
Jika seorang wanita menjadi penguasa, sesalihah apapun dia, maka tetap disikapi sebagai penguasa yang dzalim karena menunjukkan kemaksiatan dia. Ini saja kalau yang shalihah, apalagi kalau yang tidak shalihah. -)
6. Bagaimana sikap kita terhadap penguasa yang merupakan tokoh-tokoh sesat?
Tetap pegangi prinsip mendengar dan ta’at kepada penguasa dalam urusan kebaikan.
(Ustadz tertawa lagi membaca pertanyaan berikutnya....masyaa Allah,,, -D )

7. Banyak da’i-da’i salafiyyin yang menyeru kepada ukhuwah tapi kenapa banyak pula di kalangan ustadz yang berpecah-belah sehingga menjadi terkotak-kotak?
Kita istilahkan kerenggangan saja, jangan menggunakan kata berpecah-belah yaa ikhwah. Kalau terjadi ‘kerenggangan’, maka dicari sebabnya. Jika masalahnya ilmu, maka bukan bidang antum, serahkan kepada ahlinya, kepada ustadz atau masyaikh, kalian ngaji saja, itu kelasnya ‘elite’. Jika masalahnya hati, maka kalian jangan menjadi ‘bensinnya’, akhlaq itu bukan dilihat dari personal. Jika kalian malah menjadi ‘bensin’, maka akan semakin memperkeruh keadaan. Arus bawah lebih deras dari arus atas, nah yang tanya ini dari arus bawah apa atas? (sontak semua ikut tertawa mendengar pertanyaan ustadz, hihi)
Jika kerenggangan antara ahlul bid’ah dan ahlus sunnah, maka memang harusnya seperti itu dan kita boleh ikut andil dalam hal ini.
Quote dari Ustadz : “Jadilah pemersatu umat, bukan pemecah belah umat. Jadilah penentram hati, bukan perenggang hati.”
8. Bagaimana sikap kita terhadap ustadz salafiyyin yang ..... (‘afwan, belum sempat tercatat, hehe)
Dirinci dulu masalahnya apa, apakah ilmiyyah, syar’iyyah, atau manhajiyyah.
Catatan: penjelasan dan jawaban-jawaban dari ustadz ada yang saya tulis apa adanya, ada juga yang hanya merupakan ringkasan atau hanya saya tulis intinya saja. Untuk melengkapi yang kurang, sebaiknya dengarkan rekamannya yang sudah diupload oleh PAKIS. Ok ok.

klik link berikut berilmoe

Allohu a’lam, al ‘afwu minkum. Semua kesalahan penulisan berasal dari keterbatasan saya pribadi. Yang kemarin juga hadir dan sekarang membaca catatan saya ini, maka silakan mengoreksi dan melengkapi tulisan ini, hehe.


read more - Mewaspadai Para Da'i Penyesat Umat